PINDE RUME

Tradisi Betawi untuk acara pindah rumah. Tradisi ini melibatkan seluruh tetangga, tokoh masyarakat, alim ulama, grup kesenian bahkan pawang hujan. Pindah rumah dalam masyarakat Betawi diawali dengan pembacaan shalawat dustur, biasanya dibaca oleh grup ngaji atau qori yang dlminta. Pembacaan shalawat dilakukan di depan pintu. Setelah pembacaan shalawat, membaca Bismillah 3 kali, lalu mengambil tanah dari halaman rumah lama dan dibungkus dengan kain putih. Bagi orang betawi tanah punya arti penting, karena di dalam tanah di dekat cericipan atau di bawah tempat tidur ditanami ari-ari dari anak yang dilahirkan, itulah yang mengikat orang Betawi terhadap tanahnya.

Alat-alat rumah tangga yang dibawa adalah pendaringan, lampu gembreng, tempayan, bumbu dapur, kaca dan tempat sirih. Bagi orang Betawi pendaringan amat penting sebagai tempat menyimpan beras. Lampu gembreng ditamsilkan sebagai penerangan hati dalam mempelajari segala macam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Tempayan atau kendi berisi air yang melambangkan. Dengan bumbu dapur orang Betawi memandang dirinya sebagai orang yang mandiri. Dia juga menyadari tidak hidup sendirian, tapi beraneka ragam suku bangsa seperti layaknya keragaman bumbu dapur. Kaca melambangkan kerendahan hati orang Betawi. Sedangkan tempat sirih lengkap dipakai sebagai pengobatan.

Sesampainya di rumah baru, langsung menebarkan tanah ke sekeliling rumah sambil membaca bismilah. Ini maksudnya supaya amosfir rumah dan tanah yang lama (rumah yang ditinggalkan) tetap terpelihara di rumah yang baru. Ini artinya juga agar seluruh anggota keluarga betah mendiami rumah baru sebagaimana mereka betah tinggal di rumah lama. Tradisi ini diakhiri dengan makan bersama. Biasanya disediakan nasi kebuli atau nasi uduk dan kue-kue Betawi asli. Ketika tetamu pulang diberikan bungkusan nasi berkat.