Petojo

Nama suatu tempat di wilayah Jakarta pusat yang kemudian diabadikan untuk nama sebuah kelurahan. Dahulu merupakan tempat tinggal Arung Pattojo (Aru Patuju) dari daerah Soppeng (Bone) teman seperjuangan dan utusan Aru Palakka (Agung Pelakka), yang bersama-sama bergabung dalam ketentaraan VOC.

Pada awal abad ke-17, tempat ini masih sebuah hutan belantara tanpa penghuni. Namun setelah Phoa Bingaan membuat terusan bernama Molenvliet, yang menghubungkan kota lama dengan sebelah selatan, maka berdatanganlah orang-orang dari luar ke Petojo. Asal mula nama Petojo ada beberapa pendapat yang berlainan yaitu:

a. Menurut catatan sejarah, asal mula nama Petojo diambil dan nama pemiliknya yaitu Komandan Petuju Jongker

b. Tetapi menurut informasi penduduk setempat, derah tersebut dinamakan Petojo karena dahulunya di Jl. Suryopranota terdapat pabrik es petojo. Pabrik es tersebut merupakan pabrik es yang terbesar di wilayah Jakarta.

c. Petojo diambil dari nama Datuk Petuju yaitu anak buah Aru Palaka raja Bone yang datang ke Batavia minta bantuan kepada Belanda dalam rangka perang menghadaapi Sultan Hasanuddin dari Makasar.

Sekitar tahun 1930-an di daerah Petojo Enclek terdapat tangsi tentara dan kuburan Belanda karena tempatnya terpisah dengan lain, maka tempat itu disebut Petojo Enclek. Dahulu di sebelah Petojo Enclek sampai Jl. kesehatan daerahnya disebut kampung Pabuaran karena penghuninya berasal dari daerah luar. Adapun nama Petojo sawah di Sangiran kota. Daerah Petojo sawah ini kemudian dipecah menjadi dua bagian yaitu:

a. Petojo Sawah Utara, wilayahnya dari Jl. Tangerang sampai Jl. Ketapang

b. Petojo Sawah Selatan, wilayahnya dan Jl. Tangerang sampai Jl. Tarakan

Di sebelah ilir Jl. Tangerang terdapat daerah yang bernama Petojo Ilir dan di sebelah udiknya wilayah Jl. Tangerang disebut Petojo Udik. Sedangkan nama Petojo Binatu diambil dari pekerjaan penduduk yang ada di sana menjadi tukang pakaian Binatu. Pada waktu itu di Petojo Binatu ada tiga tempat Binatu yang terkenal dikelola oleh orang-orang dari dari daerah Tangerang yaitu Binatu Lilang, Binatu asli, dan Binatu Baspangin. Dahulu kampung Petojo dialiri oleh dua sungai yaitu S. Palis dan S. Cideng. S. Palis mengalir di sepanjang Jl. kesehatan dan Sangaji. Sedangkan S. Cideng mengalir dari Jati baru ke daerah Cideng. Sungai-sungai ini dipakai untuk membawa getek-getek bambu dari Tanah Abang ke Tanah Sareal (kota).