Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia

Disingkat PPPI, merupakan perkumpulan yang diikuti sebagian mahasiswa GHS di Jakarta dan Bandung yang didirikan 1925 dan diresmikan 1926. Organisasi ini berkecimpung dalam dunia politik. Anggota-anggota PPPI sebagian besar berasal dari mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum dan Sekolah Tinggi Kedokteran di Batavia serta Sekolah Tinggi Tekhnik di Bandung. Untuk mewujudkan rasa nasionalisme, mereka mengadakan Kongres Pemuda I dan II. Ketika Indonesia merdeka, PPPI sangat aktif memberikan reaksinya terhadap segala kejadian dalam dunia politik melalui majalah Indonesia Raya, majalah yang selalu meliput kegiatan-kegiatan politik yang terjadi. Organisasi ini juga berhubungan dengan organisasi partai PNI.

Bercita-cita Indonesia Merdeka; usaha untuk itu mempersiapkan anggotanya untuk memikul tanggung jawab dalam perjuangan. Berjasa mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda, dan berdirilah Indonesia Muda. PPPI yang berpolitik berdiri lepas dari Indonesia Muda yang tidak berpolitik, ditegaskan didalam Kongres Jakarta September 1930. Kegiatannya antara lain: rapat umum menentang penangkapan dan penghukuman pemimpin-pemimpin PNI, Soekarno dan kawan-kawan, April 1931; memprotes didirikannya Monumen Jenderal Van Heutz, tokoh kolonial dalam Perang Aceh, 12 Agustus 1932; mendukung aksi K.H. Dewantara menentang Undang-udang Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonantie) , Oktober 1932; mosi memperkokoh untuk mencapai persatuan Indonesia Merdeka. Kongres III (September 1932) memutuskan antara lain: menyelidiki aksi-aksi irnperialisme dan peraturan-peraturan pemerintah, mengumumkan hasil penyelidikan dan mencari hubungan ke luar negeri. Majalahnya bernama Indonesia Raya.

Tahun 1933 atas desakan guru-guru besar Belanda didirikan Universitas Studiosorum Indonesiensis (USI) yang tak berpolitik, dengan alasan politik bukan bidang mahasiswa. Studenten Islam Studieclub (SIS) berdiri 1936. Karena berbagai bentuk kegiatan itu PPPI memperlunak sikap (Kongres XI, 1938). Ikut serta dalam Kongres Rakyat Indonesia (Desember 1939) dalam rangka Aksi Indonesia Berparlemen; menuntut semua anggota organisasi yang tergabung dalam Gapi dan duduk dalam dewan-dewan perwakilan meletakkan jabatannya, jika pemerintah mengabaikan keinginan Aksi Indonesia Berparlemen. Rapat bersama dengan USI dan IVSV (Febuari 1940), mendesak agar jumlah akademisi dalam jabatan pemerintah ditambah. Indonesia Raya dilarang terbit (1940), karena memuat karangan berjudul Eereschuld der Indonesische Intellectuelen yang dianggap menyerang pemerintah. PPPI seperti segenap perhimpunan lain dipaksa berdiam diri selama pendudukan Jepang, dan tidak hidup kembali sesudah Indonesia merdeka.