PERGURUAN RAKYAT

Didirikan 11 Desember 1928 sebagai gabungan dari Pustaka Kita dan Perhimpunan Untuk Belajar. Penggabungan ini merupakan dorongan dari PNI Jakarta. Pengurus sekaligus pengajar dari lembaga ini antara lain Mr. Dr. M. Nazif, A. Mononutu Wilson, Sudarmoatmodjo, Tomowardojo, S. Martadisastra, Mr. M. Yamin, Dr. Asikin, Njonoprawoto,dan Sunarko. Sedang Badan Pengawas mencakup M. H. Thamrin, R.A.A. Kusumo Utoyo, Mr. Hadi, Dahlan Abdullah, dan Mr. Sartono. Dalam perkembangannya dibentuk dewan harian yang dipimpin oleh Dr. Samsi sebagai direktur dan A, Mononutu sebagai wakil direktur.

Dalam melaksanakan kegiatannya, perguruan ini berpegang pada pedoman yang disebut "sendi-sendi Perguruan Rakyat". Garis besar sendi-sendi tersebut mencakup dasar kebangsaan Indonesia dengan mengikis perasaan kedaerahan. Perlu ditanamkan sifat ksatria dan semangat juang yang berarti menumbuhkan kesadaran bahwa hidup adalah perjuangan dan kenyataan. Pengetahuan tentang keadaan masyarakat juga diberikan agar anak didik tumbuh rasa cinta kepada tanah air. Dengan demikian Perguruan Rakyat bermaksud mendidik pemuda Indonesia supaya berpikir dan berperasaan praktis untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi oleh masyarakat.

Perguruan rakyat bertujuan untuk membentuk suatu Volks-Universiteit (Universitas Rakyat) yang menyelenggarakan kursus lanjutan tentang bahasa, ilmu bangsa-bangsa, sosiologi, tata negara, tata buku dan stenografi. Pelajaran diselenggarakan sore hari di gedung Muhhamadiyah di Jl. Kramat 97. Seri ceramah diadakan seminggu, diantaranya diberikan Ki Hajar Dewantara tentang perguruan dan pendidikan, Dr. Sardjoto tentang penyakit malaria, Dr. Poerbatjaraka tentang bahasa Indonesia. Saeroen dan Djamaludin Adinegoro tentang jurnalistik. Juga dibantu mahasiswa di Jakarta sebagai latihan tanggungjawab sosial. Dalam waktu singkat, Perguruan Rakyat dapat menarik 300 peserta. Perguruan Rakyat juga berhasil mendirikan sekolah rendah, schakelschool, sekolah guru (Perguruan Umum Pendidik), MULO, dan mempersiapkan pendirian Perguruan Tinggi Indonesia dengan membentuk POPTI (Persediaan Oentoek Perguruan Tinggi Indonesia). Lama pendidikan di perguruan tinggi ini 3 tahun dan bisa masuk setelah lulus dari sesudah MULO. Khusus untuk MULO bagi orang dewasa diselenggarakan pada sore hari di Gang Kenari 15.