Pengantin Sunat

Anak yang akan disunat, biasanya sudah memakai busana khas layaknya seorang pengantin dengan berbagai asesorisnya. Setelah mandi anak yang akan disunat didandani dengan pakaian yang indah. Bahan pakaian terbuat dari kain satin yang mengkilap, terdiri dari celana panjang yang longgar dan kemeja tangan panjang serta mengenakan alpiah yang bentuknya memanjang ke atas. Hiasan lainnya berupa ikat pinggang yang besar dan diberi asesoris, kembang berlingkar di leher, terbus putih yang dilibat dengan sorban di kepala, dan sepatu pantopel serta kaus kaki panjang berwarna putih.

Secara garis besar pakaian pengantin sunat terdiri dari: 1) Baju luar memakai jubah haji berwarna putih dan memakai hem putih pada bagian dalamnya; 2) Celana panjang atau pantalon sewarna dengan baju; 3) Kepala memakai alpiah, terbus Arab yang dirangkai dengan rangkaian bunga melati; 4) Sepatu pantopel dengan kaos kaki panjang berwarna putih; 5) Selempang atau ikat pinggang besar yang penuh dengan hiasan; 6) Kembang/rangkaian bunga dilingkarkan di leher.

Pakaian pengantin sunat lebih banyak memperlihatkan pengaruh dari busana Arab. Terlihat dari beberapa buah nama bagian pakaian adat itu, misalnya tutup kepala yang disebut alpiah, jubah panjang yang disebut gamis, dan baju luar yang disebut jubah/jube. Setelah pengantin sunat berpakaian rapi, siap menunggang kuda berhias atau tandu sesuai dengan kaul yang diucapkan oleh orang tuanya. Kuda berhias ini disewa lengkap dengan musik yang dimainkan oleh para remaja putri/putra. Kemudian pengantin sunat diarak keliling kampung dengan para pengawalnya menuju ke tempat keramat, biasanya ke kuburan tempat dimakamkannya "pendiri desa" untuk meminta berkahnya. Sebelum waktu maghrib arak-arakan telah selesai dan tiba di rumah kembali.