Pekojan

Kelompok muslim yang aktif di dalam perdagangan wilayah pesisir Jakarta. Berasal dari kata kojal choja yang artinya orang muslim. Pada tahun 1633 daerah ini sudah dihuni oleh orang Moor, yaitu pedagang atau koja dari India. Waktu perang antara Sultan Ageng dan Sultan Haji yang didukung Kompeni, lebih banyak orang Moor pindah dari Banten ke Batavia dan seluruh pesisir utara Jawa. Kampung Pekojan terletak persis di barat tembok kota. Selain orang Moor, tinggal juga orang Melayu. Semula orang-orang Koja atau Moor merupakan kelompok Muslim yang paling banyak jumlahnya. Tetapi dengan perjalanan waktu, banyak orang Arab yang berdatangan ke Betawi. Tahun 1859, jumlah orang Arab di Betawi tereatat 312 orang, tetapi tahun 1870 sudah tiga kali lipat. Bahkan tahun 1885, jumlahnya mencapai 1.448 orang. Pertambahan yang sangat cepat ini juga akibat mereka lebih suka memiliki banyak anak.

Akhir abad ke-19, banyak orang Arab yang memenangkan lelang rumah-rumah di Betawi, sehingga banyak dari mereka yang tinggal di luar Pekojan. Orang-orang Arab ini banyak yang kaya, karena dikenal hidup hemat, bahkan terkesan pelit. Selain berdagang, mereka juga suka meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi. Bahkan di kalangan penduduk Betawi, mereka dijuluki lintah darah. Berangkat dari kondisi itu pula, gubernemen mendirikan pegadaian untuk membantu orang-orang yang memerlukan pinjaman uang.

Di tengah-tengah mereka pada tahun 1636 tinggal dua pemuka agama (moorsche papen), yang meresmikan perkawinan dan mengajar agama Islam. Salah satu diantara mereka itu adalah Lebe Assua, yang dibuang ke Formosa untuk sementara waktu, namun mulai bergerak bebas lagi waktu pemerintahan Gubernur-Jenderal Maetzuyker. Di wilayah ini keberadaan kelompok muslim ditandai dengan berdirinya Masjid Pekojan yang berasal dari abad ke-18. Di wilayah ini juga terdapat pasar, yaitu Pasar Pekojan. Pasar ini terletak di sekitar Glodok, menjual bahan sandang dan barang-barang langka seperti kerajinan perak dari India.