PEJAGALAN, KAMPUNG

Salah satu kampung tua di wilayah DKI Jakarta. Nama Pejagalan berasal dari kata jagal yang artinya dipotong atau dijagal, kemudian mendapat awalan pe- dan akhiran -an. Konon dahulu di kampung itu tinggal orang-orang keturunan Arab dan Pakistan. Mereka suka makan "nasi kebuli" yaitu nasi yang dicampur dengan daging kambing dan minyak samin. Untuk konsumsi daging kambing, mereka mendatangkannya dari luar kemudian dijagal di tempat tersebut. Akhimya orang-orang menyebut tempat itu "Tempat Jagal" yang lama-kelamaan terkenal dengan sebutan Kampung Pejagalan.

Kampung Pejagalan yang kemudian diabadikan namanya menjadi Jl. Pejagalan terletak di wilayah RW 05 Kelurahan Pekojan, Jakarta Barat. Dahulu Kampung Pejagalan wilayahnya sangat luas meliputi Jembatan Tiga dan Teluk Gong. Kampung Pejagalan dialiri oleh dua buah sungai, yaitu Kali Kampung Baru dan Kali Patuakan. Kali Kampung Baru airnya berasal dari Jelambar. Dahulu digunakan oleh penduduk untuk mengangkut bambu-bambu ke daerah kota. Kali Patuakan berasal dari Jembatan Lima yang airnya jernih, dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.

Pada masa Pemerintahan Belanda Kampung Pejagalan berada di bawah Penjaringan Wijk, Onderdistn'ct Penjaringan, dan District Batavia. Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Pejagalan masuk Penjaringan Son, Kawedanan Jakarta Kota. Setelah kemerdekaan sampai tahun 1967 Kampung Pejagalan masuk wilayah Kelurahan Pejagalan, Kec. Pejaringan, Jakarta Utara. Setelah pemekaran kota, pada tahun 1967, wilayah Kelurahan Pejagalan dipecah menjadi 2, yaitu sebagian masuk wilayah Kelurahan Pekojan, Kec. Tambora, Jakarta Barat, dan sebagian lagi masuk wilayah Pejagalan Utara, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara.

Penduduk Kampung Pejagalan sebelumnya terdiri dari orang-orang Betawi. Kemudian datang orang-orang luar seperti orang Banten yang dibawa oleh pengikut Fatahilah ketika menyerang Sunda Kelapa. Menyusul kemudian datang orang-orang dari Asia, yaitu Parsi dan Gujarat, Kalingga (India dan Pakistan), orang-orang Arab dari Hadramaut, orang-orang Sunda, dan Jawa. Untuk menyemarakkan Kota Batavia, semasa pemerintahan Gubernur Jenderal IP Coen didatangkan orang-orang Cina yang terkenal sebagai pedagang ulet dan mahir dalam berniaga. Tempat pemukiman mereka biasanya tidak jauh dari pasar.