PASAR SENEN

Nama yang diberikan untuk Vinckeppasser (pasar Vinek) karena hari pasarannya hanya Senen (meskipun kemudian ditetapkan juga hari Jum'at). Sejak tahun 1766, buka pada hari-hari lainnya. Hal itu disebabkan tindakan Daendels yang membangun kompleks militer di sekitar pasar, yaitu membangun perumahan opsir di sepanjang Jl. Kenanga, Kwini, Secang, Manjangan sampai Lapangan Banteng.

Pasar milik Vinck dibuka di sudut tenggara perkebunan Weltevreden dan di barat Jl. Groote Zuinder (1735). Pasar juga berkembang ke sisi timur Jl. Pasar Senen yang bukan bagian dari Weltevreden. Dulu untuk meneapai pasar dari Matraman Raya harus melalui Jl. Salemba Raya, Jl. Kramat Raya, terus ke utara hingga sampai ke Jembatan Kramat. Pertama kali izin diberikan pada tanggal 30 Agustus 1735 dengan ketentuan pasar hanya buka setiap Senin. Maka disebut Pasar Senin walau ada juga yang menyebutnya Pasar Vinek (Vinck market). Dalam perkembangannya, pasar bisa buka pada hari Jumat (1751) dan akhirnya bisa buka setiap hari (1766). Namun pada tahun 1813, pasar hanya bisa buka pada hari Minggu dan Kamis.

Apabila awalnya hanya memperdagangkan sayuran, selanjutnya juga keperluan sehari-hari. Toko di Pasar Senen hanya beratap jerami dan kebanyakan dihuni orang Cina. Sampai tahun 1815, masih terdapat rumah gedek walaupun sudah ada rumah petak dari kayu, tetapi belum ada satu rumah tembok pun. Pada tahun tersebut, 229 kedai menggunakan kayu dan beratap genting. Sedang 139 kedai lainnya dibuat dari kayu/bambu dan beratap jerami. Dengan bahan seperti ini, pasar benarbenar hancur saat terjadi kebakaran pada tanggal 9 Juli 1826. Untuk sewa setiap pemilik toko ditarik 4 ribu ringgit (1766) dan naik lagi menjadi 10 ribu ringgit (1800).