Pasar Gambir

Pasar malam yang diadakan setahun sekali oleh Pemerintah Belanda sejak tahun 1921 selama satu minggu. Karena sambutan masyarakat sangat besar, kemudian diperpanjang sampai dua minggu dimulai akhir Agustus dan ditutup awal bulan September. Oleh karena lokasinya menempati Lapangan Gambir maka keramaian itu disebut Pasar Gambir. Pada awal diadakan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhemina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Kemudian sejak tahun 1921 Kotapraja memutuskan agar perayaan tersebut diadakan setiap tahun secara rutin. Sampai tahun 1930-an, hanya ada sarana hiburan dan belum ada pameran hasil kerajinan dari instansi pemerintah. Pertama kali diadakan pada tahun 1606 dan dikelola oleh kotapraja. Dengan adanya sambutan pengunjung yang besar hingga 75 ribu orang maka sejak tahun 1921 pasar malam diadakan setiap tahun. Berlangsung selama satu minggu kemudian diperpanjang sampai dua minggu. Dan akhir Agustus hingga awal September. Pukul 10.00 sampai 24.00. Penjualan karcis untuk pribumi dan orang Belanda berbeda, Untuk pribumi seharga 10 sen dan orang Belanda 25 sen.

Pintu gerbangnya merangkap sebagai kantor dan penjualan karcis, Terbuat dari bambu dan kayu serta beratap daun rumbia. Setiap tahun selalu berubah, mengambil gaya dari berbagai daerah seperti Toraja, Minangkabau, dan lain-lain, Enam bulan sebelumnya telah didatangkan arsitek untuk mempelajari seni bangunan dari daerah yang bersangkutan, Terletak di sebelah utara di Jl. Daanhole (Sabang) yang menjadi lokasi Taman Ria Monas. Di sebelah barat pintu gerbang terdapat kantor polisi (Jl. silang Monas dan taman), Di sebelah selatan terdapat Monas dan sebelah timur terdapat Stasiun Gambir, Lokasi pasar lebih luas dari Pekan Raya Jakarta dan dikelilingi pagar bambu setinggi 2 m. Setelah masuk pintu gerbang, akan dijumpai sebuah taman dengan air mancur dan bangkubangku tempat istirahat.

Petasan dibunyikan selama penyelenggaraan Pasar Gambir. riga kali dibunyikan pada waktu pembukaan, penutupan dan pada hari ulang tahun Ratu Wilhemina, Kembang api tersebut buatan Indonesia, yaitu Gorz Krukut dan Lauw Kana Hoen Angke, Selain kembang api juga dinyalakan lampu sorot setiap malam, Cahayanya terlihat sampai Cakung dan menjadi tanda bahwa pasar sudah dibuka, Stand yang dibuka di Pasar Gambir terdiri dari dua macam, stan tertutup dengan tiket masuk 10 sen dan stand terbuka yang tidak dikenakan biaya, Stand terbuka memamerkan foto-foto Perang Waterloo, Sedang stan tertutup mempertunjukkan sulap Schandu, montor dalam keranjang, tong setan, orang dibakar, Alxoha Hawai,dan dancing hall. Selain itu ada juga permainan lotre, permainan konel, dan layar tancap dengan cerita Charlie Chaplin di tempat terbuka.

Di dalam pasar tersedia pula warung·warung kecil untuk pribumi yang menjual minuman dan nasi. Dengan 25 sen sudah bisa menikmati nasi lengkap dengan lauk pauk. Sedang orang Belanda mempunyai restoran tersendiri. Pedagang kaki lima pun turut menyemarakkan pasar. Mereka datang dari pinggir kota dan menjajakan kerak telor dari Tanjung Duren, laksa dari Petamburan, bandrek dari Manggarai, tanaman bunga dan Rawabelong, permainan anak, pakaian dalam, sandal, dll. Menggelar dagangannya dengan alas kain di luar areal pasar, di sepanjang jalan menuju pintu gerbang.

Dalam perkembangan lebih lanjut, instansi pemerintah turut ambil bagian seperti di stan BPM yang memamerkan hasil penggalian minyak di Indonesia, landbow yang memamerkanjenis tanaman Indonesia, Balai Pustaka memamerkan buku pelajaran dan bacaan, Dan Eropa ditampilkan berbagai hasil kerajinan dari dalam dan luar negeri, Menjelang berakhimya Pasat Gambir, tahun 1937, kesenian bumiputera juga turut ditampilkan seperti tarian doger, wayang wong, dan ketoprak. Juga diselenggarakan berbagai perlombaan seperti keroncong, dansa, paduan suara, kasti, ngadu layang-layang (pada sore hari), panjat pohon pinang (pada sore hari), dan sepak bola,

Di arena Pasar Gambir juga diselenggarakan satu bentuk perlombaaan keroncong. Perlombaan berlangsung pada malam hari dan diikuti peserta dari luar kota. Seperti dari Malang dengan peserta yang terkenal Amat Pengkat, dari Surabaya diwakili Abdullah, dan dariJakarta oleh orkes keroncong Lief Java pimpinan Ismail Mat·zuki. Hadiah ada 3 macam, yaitu hadiah pertama mendapat uang sebesar 100 gulden, hadiah kedua sebesat 50 gulden, dan hadiah ke tiga sebesar 25 gulden.

Ketika meletus PD (PD) II dan Jepang menguasai Indonesia, Pasar Gambir berakhir. Sekitar tahun 1952, kegiatan pasar kembali diaktifkan dengan mengambil tempat di Jl. Jenderal Sudirman atau di lokasi yang kemudian didirikan Rumah Sakit Jakarta. Namun tidak berlangsung lama seiring dengan perkembangan kawasan Jl. Selatan.

 

PASAR GAMBIR dan PEKAN RAYA JAKARTA

Pasar Gambir bermula pada tahu 1906 diadakan dalam menyambut ulang tahun Ratu Wilhemina pada tanggal 31 Agustus sampai pertengahan September. Kegiatan ini berawal dari pameran etnografi dan kerajinan tangan yang diadakan pada tahun 1853 di Batavia. Pasar Gambir diadakan di lapangan Gambir. Sebelumnya kegiatan ini dilakukan di lapangan depan rumah pelukis Raden Saleh di Cikini. Pasar Gambir tidak hanya memerkan beberapa barang, namun juga memperjual-beli produk yang diprakarsai oleh Departemen van Onderwijs Eeredients en Nijverheid atau Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1918 kegiatan di Pasar Gambir bertambah dengan diisi acara hiburan untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Pada masa Orde Lama, muncuk Pekan Industri dan Kebudayaan yang berlokasi di Lapangan Blok M. Pada saat itu, Lapangan Gambir (kini berubah menjadi Lapangan Monas) menjadi sepi. Beberapa lapangan bola di Jakarta pun seperti Lapangan Bola VIJ-Petojo dan Lapangan Bola Mangga Besar membuat kegiatan pasar malam tradisional. Kemudian pada tahun 1968 kegiatan pasar malam di Monas diadakan kembali. Gubernur Jakarta Ali Sadikin menggabungkan ide Pasar Gambir dengan Pekan Industri dan Kebudayaan, maka jadilah Djakarta Fair. Djakarta Fair dibuka untuk memeriahkan ulang tahun Kota Jakarta.

Pada awalnya di Djakarta Fair terdapat area hiburan, arena hiburan dipindah ke Taman Ria karena semakin banyaknya stand. Keduanya berlokasi di Lapangan Monas. Djakarta Fair tidak berbeda dengan Pasar Gambir, namun isi dari Djakarta Fair lebih modern. Pada tahun 1992, Djakarta Fair dipindahkan ke Kemayoran (bekas kompleks lapangan terbang) dan berganti nama menjadi Pekan Raya Jakarta.