Pasar Baru

Salah satu pusat berbelanja paling tua di Jakarta. Ia sudah ada sejak awal abad ke-19, setelah wilayah Batavia berkembang ke arah selatan, ke daerah Weltevreden (daerah Lapangan Banteng dan sekitarnya), setelah Batavia Lama (Jakarta Kota) dianggap terlalu padat dan kurang layak huni. Cukup banyak bangunan tua dari zaman kolonial yang masih tersisa di Pasar Baru dan hingga kini menjadi daya tarik tersendiri. Di antaranya toko-toko di Jl Pasar Baru nomor 2, 8, 30, dan 46 yang didirikan pada tahun 1906.

Bangunan-bangunan itu sebagian masih dipakai sebagai toko, kantor, atau kegiatan usaha lainnya. Bangunan bersejarah lain yang masih berdiri di daerah Pasar Baru adalah bekas gedung kantor berita Hindia Belanda ANIP Aneta di Jl Antara. Gedung ini sekarang menjadi gedung kantor Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Awalnya Pasar Baru hanya berupa pasar sederhana. Ia adalah tempat para pedagang pribumi menjual berbagai hasil pertanian dan para pedagang keliling Cina menjajakan barang kelontong dagangannya. Daerah itu makin hidup setelah tentara Inggris membangun gedung kesenian sederhana pada tahun 1914. Gedung kesenian sederhana dari bambu ini kemudian dibongkar dan digantikan pemerintah Hindia Belanda dengan gedung kesenian lebih permanen (Sehouwburg) yang kini menjadi Gedung Kesenian Jakarta. Kaum pedagang dari golongan etnik Cina merupakan para pemilik toko pertama di Pasar Baru. Mereka mulai mendirikan toko-toko pada tahun 1877. Beberapa bangunan toko berarsitektur Cina yang masih berdiri di sana sampai sekarang adalah sisa-sisa peninggalan masa itu. Catatan sejarah menyebutkan, pada tahun 1930-an pemilik toko-toko di sepanjang Jl Pasar Baru tak lagi didominasi kaum pedagang Cina. Sebagian toko juga dimiliki dan dikelola warga kelompok etnik India dan Jepang. Hal ini berbeda dengan pusat pertokoan di sebelah baratnya, di sepanjang Noordwijk dan Risjwijk (sekarang Jl H Juanda dan Jl Veteran), yang hampir semua milik bangsa Eropa. Di Jl Pos, di seberang Pasar Baru, juga banyak berdiri toka-toko Eropa dan sejumlah kecil toko Cina.

Cukup banyak bangunan tua di Pasar Baru yang kini sudah dibongkar dan diganti dengan bangunan baru. Misalnya saja bangunan toko De Zon yang legendaris itu. Bangunan besar bergaya Eropa itu dihancurkan dan diganti dengan bangunan bertingkat baru yang dipakai oleh toko serba ada Matahari. Bangunan-bangunan toko berarsitektur Eropa, termasuk toko De Zon, dibangun belakangan. Bangunan-bangunan baru ini sebagian didirikan sebagai ganti bangunan-bangunan Cina yang sudah tua. Pada tahun-tahun 1920-an dan 1930-an di daerah Weltevreden memang terjadi proses Eropanisasi, di mana banyak bangunan lama bergaya arsitektur Cina dirobohkan dan diganti dengan bangunan-bangunan bam bergaya Eropa.

Hingga tahun 1970-an, Pasar Baru mempakan tempat berbelanja paling prestisius di Jakarta. Toko-tokonya menjual baju, sepatu, perhiasan, tekstil, sampai alat-alat olahraga berkualitas. Sebagian besar barang impor. Di sanalah, warga kota kelas menengah ke atas masa lalu berbelanja pakaian dan asesoris lainnya. Pada masa kini, Pasar Baru lebih identik sebagai toko sepatu dan tekstil. Zaman kolonial Belanda kawasan ini benama 'Batavia Passer Baru', sebagai sebuah sentra lokasi bisnis. Sejak Pencanangan Kebangkitan Citra Wisata pada 10 Oktober 1999 oleh Gubernur Sutiyoso, Pasar Baru tidak hanya dikenal sebagai tempat berbelanja, tetapi juga tempat wisata. Di samping toko-toko tua yang tetap bertahan, seperti Sin Lie Seng, toko sepatu khusus bagi pria, yang berdiri pada tahun 1942 dan Lee Le Seng, toko alat tulis kantor yang lebih tua dan masih tetap menjaga keunikannya. Berdasarkan ukiran nama toko itu di dinding, tertera berdiri pada tahun 1873.