Partkuliere Landedjen

Disebut juga "Tanah Partikulir", merupakan tanah-tanah di wilayah ommelanden yang diberikan atau dijual kepada orang swasta (orang kaya, pejabat, dan pedagang) oleh pemerintah VOC/Inggris/Nederland hingga abad ke-19. Sampai tahun 1904, bagian utara daerah Menteng adalah Tanah Partikulir Gondangdia. Tahun 1910 dikeluarkan peraturan tentang pembelian kembali (teruglwop) tanah-tanah partikulir oleh pemerintah dan usaha ini belum selesai pada tahun 1942. Pemilik-pemilik tanah partikuler bukan hanya memiliki tanah, melainkan mempunyai hak terhadap orang yang menggarap (sebagian) tanahnya.

Para penggarap mendapat erfpach (atau 'erpah' adalah tanah sewa turun temurun dengan waktu selama 75 tahun), namun harus membayar tjoeke atas hasil tanah dan padjeng serta beberapa beban lain atas buah dan ikan. Mereka wajib juga melakukan heerendiensten (kerja rodi sampai 1916), yaitu sehari dalam seminggu bekerja untuk kepentingan tuan tanah. Selain itu tuan tanah juga berhak memungut iuran atas penjualan di pasar dari orang-orang yang melalui tanahnya. Ia mengangkat kepala desa dan mempunyai 'mandur-polisi' untuk menjamin keamanan dan hak-haknya.