PARADEPLAATS

Disebut juga Parade Square, Waterlooplein, atau Lapangan Banteng. Merupakan tempat berburu golongan kaya zaman Batavia, terutama masa Gubernur Jenderal van Overstraten. Dulu di lapangan ini sering digunakan untuk parade militer, kemudian disebut Leuwinplaats, Lioness Square, Lapangan Singa. Dikenal dengan nama Lapangan Singa, sebab di tengah lapangan terpancang tugu peringatan dengan patung singa di atasnya. Sebuah tiang besar namun kurang praporsional dengan Sang Singa hingga dikenal dengan sebutan 'seekor pudel berdiri di atas sebuah keju dari Edam' di puncaknya. 'Anjing Pudel' itu sebenarnya Singa Belanda yang kekecilan. Oleh karena itu lapangan ini disebut Lapangan Singa. Disamping itu juga bentuknya yang berupa tiang tinggi berkolom putih dengan patung singa kecil yang dipasang di atasnya, menjadikan monumen ini menjadi bahan ejekan orang karena patung singanya lebih mirip tikus.Tugu itu didirikan tahun 1828 untuk mengenang kekalahan Napoleon dalam pertempuran Waterloo, sehingga disebut juga Lapangan Waterloo atau Waterlooplein. Setelah kemerdekaan, namanya berganti menjadi Lapangan Banteng. Pusat pemerintahan baru di Batavia setelah sebelumnya ada di kota lama.

Tahun 1623, tanah tersebut milik Anthonie Paviljoen Sr, tahun 1649 dihibahkan pada putranya, Anthonie Paviljoen Jr. Tanah ini terletak di sebelah barat S. Ciliwung dan sebagian besar merupakan rawa-rawa. Nama ini digunakan menunjuk hampir seluruh daerah selatan Batavia yang berbeda dari kota lama di utara (1750). Daerah ini dijual kepada pemerintah tahun 1808. dan dikenal sebagai Weltevreden. Perkembangan selanjutnya Lapangan Banteng menjadi pusat ketentaraan dan namanya menjadi Lapangan Parade. Pada masa pemerintahan Daendels, tepatnya tanggal 7 Maret 1809 diputuskan untuk membangun istana baru bagi gubernur jenderal di sisi timur lapangan itu dan baru selesai masa pemerintahan Gubernur Jenderal du Bus. Tahun 1835 dipakai untuk Kantor Pos dan Percetakan Negara.

Menjelang abad ke-19 menjadi tempat berkumpulnya kaum elite. Pada Minggu malam diperdengarkan musik militer, dan pada sore hari penuh kereta-kereta pesiar dan kuda tunggangan. Sampai tahun dua puluhan selalu mendengar permainan musik di sebuah sudut lapangan yang gelap, sehingga menarik banyak peminat. Kompleks ini menjadi salah satu pemukiman terbesar di Batavia dengan tiga gubernur jenderal yang pernah tinggal di sini sejak awal abad ke-18. Menjadi pilihan tempat tinggal karena kondisinya lebih sehat dibanding kota lama. Selain itu juga ada Istana Dendels, Monumen Coen, Pasar Senen, dan Monumen Michiels yang dibangun di daerah ini. Batas kompleks Weltevreden meliputi sebelah utara berbatasan dengan Jl. Pos dan Jl. Dr. Sutomo, sebelah timur Jl. Gunung Sahari dan Jl. Pasar Senen, sebelah selatan Jl. Prapatan, dan sebelah barat S. Ciliwung.