PANEN PADI

Proses pemungutan atau pemetikan hasil padi yang telah tua dan menguning. Panen merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh para petani. Setelah sekian lama mengolah lahan, menanam bibit, menyiangi, memupuk, dsb. Sesuai adat dan kebiasaan masyarakat Jakarta sejak dahulu, sebelum memanen keesokan harinya, terlebih dahulu ditentukan hari yang baik pada sore harinya oleh pemilik sawah, ditandai dengan mengelilingi seluruh sawah yang akan dipanen sambil membawa upet (kelopak bunga kelapa kering) yang dibakar salah satu ujungnya, dan sesajian berupa ubi-ubian yang diletakkan pada setiap sudut petakan sawah. Kemudian ditentukan batas-batas antara padi yang akan dipanen secara beramai-ramai dan padi belahan.

Sebelum memetik padi, pada pagi hari diadakan selamatan "ngajak pulang". Diawali dengan menanak nasi dalam periuk tanah, kemudian dibawa ke sawah pada sore harinya. Dibawa pula sesajian berupa air mentah di dalam kendi, seperangkat makan sirih berupa: pinang, gambir, kapur sirih dan dua helai daun sirih. Tidak lupa dibawa pula bakul besar dan tali terbuat dari irisan bambu muda untuk mengikat padi. Saat meletakkan sesajian diiringi dengan nyanyian (tembang), isinya mengajak Dewi Sri pulang ke rumah, sehingga tidak ada yang tertinggallagi di sawah. Barulah pada keesokan harinya panen padi dilaksanakan dengan melibatkan warga kampung, terutama tetangga dekat yang dulunya ikut membantu nandur. Sebagai ungkapan dalam mengajak atau memberi tahu dengan kata-kata "Neng besok mau ngederepin".

Di beberapa wilayah terdapat satu kebiasaan mencari hari baik untuk panen atau memotong padi. Contohnya di Kelurahan Lobang Buaya hari baiknya adalah Minggu, Senin, dan Kamis, sedangkan hari-hari lainnya merupakan pantangan. Beberapa alat yang digunakan dalam kegiatan panen, diantaranya colen (sebagai penerangan), ani-ani (pemotong padi), tudung atau caping (sebagai penutup kepala), tali (untuk pengikat padi), corokan (pemikul padi), kain (membawa padi), dan bakul (tempat padi).