Pajonkeran, Kampung

Wilayah Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjungpriok, dan Wilayah Kelurahan Kalibarn, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara, sampai akhir tahun enam puluhan abad ke-20 lalu dikenal dengan  sebutan Pajongkoran. Entah apa sebabnya nama itu dihilangkan daripeta-peta yang terbit kemudian.

Nama kampung ini meneruskan nama Jonker, seorang kapten Ambon dari Manipa (Maluku) yang pernah berjuang untuk VOC di India, Sri Lanka, Makassar, Sumatera, dan Banten. Terletak di wilayah Kelurahan Koja Selatan, Kec. Tanjungpriuk, dan Wilayah Kelurahan Kalibaru, Kec. Cilincing, Jakarta Utara, sampai akhir 1960-an dikenal dengan sebutan Pajongkoran, karena di tahun 1676-1682 dikuasai Kapten Jonker, seorang kepala pasukan orang-orang Maluku yang mengabdi kepada VOC. Untuk sementara waktu, mengabdi pula sebagai pengawal Susuhunan Mataram, kerajaan besar di Jawa Tengah. Atas pengabdiannya dihadiahi tanah di Marunda, tempat tinggal bersama orang-orang Ambon bekas bawahannya selama beberapa tahun. Dengan Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 23 April 1666 mereka diberi tempat di kawasan Marunda, dengan tugas lain menjaga perkebunan di sana.

Kata Jonker bukanlah nama diri, melainkan gelaran, yaitu padanan dan tamaela, gelaran kehormatan di Ambon pada jaman itu. Pada sebuah akte tertanggal 22 November 1664 namanya ditulis Joncker Jouwa de Manipa. Tanah seluas itu diberikan sebagai hadiah bagi jasa-jasanya di berbagai medan perang, seperti di Timor, Srilangka di bawah Goens, di Sumatera Barat di bawah Poleman, di Sulawesi Selatan di bawah Speelman, di Jawa Timur pada waktu Kompeni "membantu" Mataram memadamkan pemberontakan Pangeran Trunojoyo, di Palembang, dan terakhir pada peperangan di Banten, waktu Kompeni "membantu" Sultan Haji melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, pada tahun 1682. Menjelang akhir hayatnya, Jonker merasa disia-siakan disamping mendapat tekanan-tekanan dari pejabat-pejabat Belanda yang tidak. menyenanginya, seperti Mayor Isaac de Saint Martin, yang memirnpin Kompeni ke Banten, sebelum pasukan yang dipimpin Jonker terlibat dalam peperangan itu. Pada tahun 1689, dengan tuduhan akan berbuat makar tempat kediamannya diserbu, Jonker sendiri menemui ajalnya dengan tragis.