Opera Bangsawan

Opera yang terdapat di Jakarta, saat masih bernama Batavia. Berbeda dengan opera yang dimaksudkan dalam seni musik Eropa, di mana sebuah cerita lengkap, misalnya kisah percintaan "Carmen," kisah puteri "Aida," kisah gadis Jepang "Madame Butterfly," yang dibawakan dalam bentuk dialog nyanyian vokal, dengan mendapat iringan musik simfoni orkestra yang lengkap. Selain nyanyian dan musik, opera Eropa itu memperhatikan pula unsur dekornya, unsur gerak dan kadang-kadang pula tariannya. Opera demikian mempunyai struktur yang tertib, misalnya senantiasa dimulai dengan sebuah overture musikal.

Apa yang dinamakan opera dalam zaman Nederlandsch Indie alias Hindia Belanda dahulu, ialah sebuah komidi bangsawan belaka. Kalau arti baku dari komidi adalah "Play-acting" atau sandiwara, meniru seakan-akan terjadi sungguh-sungguh, atau dapat pula berarti pertunjukan yang menggelar adegan-adegan gembira, lueu, tetapi komidi bangsawan dalam prakteknya adalah pertunjukan serba ada, gembira, sedih, tegang, nyanyian-nyanyian, maupun tarian-tarian, mulai yang tradisional maupun yang berusaha mengadaptasi kesenian kabaret Barat.

Opera yang pertama-tama dikenal di kota Batavia, adalah opera yang didirikan oleh seorang seniman dari kota Medan di Sumatera Utara, bernama Ja'far Turki. Perkumpulan operanya lalu diberi nama "Opera Ja'far Turki." Kemudian muncul pula opera yang jelas mengidentifikasikan asal Melayunya, suahi opera yang termasuk paling tua pula, yaitu "Opera Malaya."

Dengan ini jelaslah bahwa dalam musik di Batavia yang berpengaruh pula kepada kroncong adalah unsur-unsur Melayu melalui opera-opera tersebut. Opera lainnya adalah "Marie Oort Opera," yang primadonanya adalah nona Marie Oort, penari ballet, yang menarikan tarian moresko. Suaminya bernama Willem Kramer, adalah penyanyi pertama dari Keroncong Moresko.

Opera bangsawan lain yang dikenal pada zaman itu, ialah Dahlia Opera, Opera Miss Ribut. Opera Dardanella didirikan oleh Miss J a dan suaminya seorang Rusia bernama Pedro. Di antara pemain-pemainnya ialah Tan Ceng Bok dan Bachtiar Effendi. Tatkala mereka melawat ke luar negeri, perkumpulan ini gulung tikar. Kemudian, perkumpulan Opera Dardanella dibangun kembali oleh Abbosom Abbas, Anjar Asmara dan Ratna Asmara.