OMMELANDEN

Daerah di sekitar Batavia yang terbentuk atas daerah inti yang bernama Jakarta, meluas ke arah timur dan selatan membentuk perkampungan baru. Merupakan daerah bagian Batavia yang dibedakan menjadi dua, yaitu Ommelanden bagian barat yaitu Tanggerang (Benteng), dan Ommelanden bagian selatan yaitu Buitenzorg (Bogor). Daerah Ommelanden mula-mula dikuasai kepala daerah dari kalangan Bumiputra tetapi secara administratif kekuasaan Bumiputra dirampas dan diletakkan di bawah Belanda.

Dahulu Ommelanden merupakan perkebunan orang Tionghoa di daerah sekitar Batavia. Tidak jauh dari situ terdapat klenteng bagi dewa Xuan-tian shang-di yang dibangun pada tahun 1660-an yang kemudian menjadi pelopor bangunan-bangunan lain yang serupa pada abad ke-18. Belanda kemudian menjual tanah di Ommelanden kepada orang Eropa partikulir dan bangsa-bangsa lain untuk mendapatkan uang secara cepat. Penjualan tanah ini semakin meluas sampai ke daerah Bogor. Dengan demikian Ommelanden merupakan wilayah di luar kekuasaan Belanda. Mencakup Sungai Angke di sebelah barat (Tanggerang) dan Bekasi-Kerawang di 'sebelah timur, meluas ke selatan hingga Pelabuhan Ratu sampai Bogor.

Pemerintahannya diserahkan kepada para pemimpin etnik yang dianugerahi gelar kemiliteran seperti Kapitan, Leuitenant, dsb. Di daerah ini kerap terjadi pergolakan yang dilakukan oleh petani. Sampai kedatangan Inggris pada tahun 1811, di daerah Ommelanden sudah diterapkan berbagai sistem pemerintahan tetapi keadaan belum juga bisa aman sehingga terpaksa diadakan administrasi senjata. Orang-orang Eropa yang mengadakan perjalanan dalam urusan tanah tidak pernah aman jika tidak membawa pengawal bersenjata yang memadai. Gangguan keamanan di Ommelanden terjadi karena letaknya yang terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Batavia. Daerah ini kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Bogor dengan urusan administrasi terpisah. Kemudian wilayah Ommelanden dibentuk menjadi satu keresidenan, yaitu residensi Batavia.