Oerip Soemohardjo

Jenderal TNI; tokoh pembentukan Markas Besar Umum TKR di Yogyakarta. Kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 22 Februari 1893. Meninggal di Yogyakarta, 17 November 1948. Lulus OSVIA Magelang (1910); memasuki kursus Islandsche Officier (19111914). Menjadi perwira bumiputera berpangkat letnan dua Infanteri, ia ditugaskan di Batalyon XII; kemudian ke Kalimantan Tenggara (1914-1917). Berhasil menempuh ujian persamaan kedudukan dengan perwira Belanda (1917); selama 10 tahun berikut berpindah-pindah batalyon dan tempat tugas. Berpangkat mayor sekembali dari Buitenlands verlof (cuti ke Eropa) diangkat sebagai komandan Depot Batalyon II, yang merupakan jabatannya terakhir. Atas permintaan sendiri dia diberhentikan secara hormat, dengan hak pensiun serta tanda terima kasih atas jasa-jasanya (1938). Ia menetap di Gentan, lereng G. Merapi, di utara Yogyakarta. Tahun 1940 terkena mobilisasi umum, dipanggil bertugas kembali sampai pemerintah Hindia Belanda/KNIL menyerah kepada Jepang (Maret 1942). Menjadi tawanan Jepang dan 3 bulan di Cimahi; kemudian kembali ke Gentan tanpa mengikuti kegiatan selama 1942-1945.

Dengan terbentuknya Negara Republik Indonesia (17 Agustus 1945), terpanggil untuk membentuk organisasi tentara angkatan perang (Dekrit 5 Oktober 1945 tentang pembentukan TKR). Sejumlah bekas perwira KNIL dikumpulkan bermusyawarah; menyatakan tak terikat lagi oleh sumpah KNIL, dan berdiri di belakang pemerintah RI, membentuk Markas Besar Umum Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta, dan Oerip terpilih sebagai kepala Staf Umum, 20 Oktober 1945. Meninggal karena penyakit jantung; jenazahnya dimakamkan di Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Untuk jasa-jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal anumerta; anugerah Bintang Sakti (1959); Bintang Mahaputra (1960); Bintang Republik Indonesia (1967); Bintang Kartika Eka Paksi Utama (1968); dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Untuk mengenang jasa besarnya, kemudian namanya diabadikan menjadi nama jalan utama di Jakarta.