OEI TJOE TAT

Tokoh penting Tionghoa dalam Baperki dan LPKB. Lahir di Solo, 26 April 1922 dari keluarga berkecukupan. Ia mendapatkan pendidikan dasarnya di HCS Solo, kemudian pada usia 13 tahun melanjutkan sekolahnya di RBS Semarang. Ketika indekos di Semarang, pertama kali berkenalan dengan Siauw Giok Tjhan, wartawan harian Mata Hari. Sejak di RBS ia sudah tertarik dengan masalah-masalah politik, terutama menyangkut perang Tiongkok-Jepang dan aktif menghimpun dana untuk Fonds Tiongkok. Pada tahun 1940 ia melanjutkan studinya di Rechts Hoge School (RHS) Batavia. Namun karena di masa pendudukan Jepang, kuliahnya dihentikan dan ia kembali ke Solo dan tahun 1945 menikah dengan Kwee Loan Nio, gadis dari Salatiga.

Pada 1946, kembali ke Jakarta dan meneruskan studinya di Nood Universiteit Indonesia sambil bekerja di War Crimes Investigation Team Allied Forces. Ia tamat dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1947) dan sejak itu dikenal dekat dengan Presiden Soekarno. Pada 1948, berhasil menyelesaikan studinya dan menyandang gelar Meester in de Rechten. Pada 1946, bergabung dengan Sin Ming Rui dan menjadi Ketua Umum selama 4 periode berturut-turut (1950-1954). Ia juga menjadi Wakil Ketua Persatuan Tionghoa, Wakil Ketua PDTI (partai Demokrasi Tionghoa Indonesia) dan klub sepak bola UMS (United Makes Strength) di Jakarta. Pada 1954, ikut mendirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan menjadi Ketua Muda Pusat (1954-1957). Pada 1955-1957 menjadi pengurus Palang Merah Indonesia, Jakarta. Pada 1956-1959 menjadi anggota fraksi Baperki di Konstituante. Ia disebut-sebut sebagai aktivis Partindo (partai Indonesia) di sekitar tahun 1960-an, dan saat partai ini terpecah, ia memilih beraliran kiri yang tidak menghendaki tetap pada dasar perjuangan semula. Puncak karirnya dicapai pada 9 Desember 1963, diangkat menjadi Menteri Negara diperbantukan pada Presidium Kabinet Kerja.

Setelah pemberontakan kaum komunis (1965), semua ormas PKI dan orpol yang dianggap bersimpati kepada komunis dibubarkan, sedang para tokohnya ditahan serta diadili. Pada 12 Maret 1966 dengan menggunakan SP 11 Maret, Soeharto menahan Oei Tjoe Tat bersama 15 orang menteri lainnya. Proses peradilan baru dilaksanakan 9 Februari 1976 hingga 30 Maret 1976. Atas desakan Adam Malik, pada Desember 1977 ia dibebaskan. Sejak saat itu kabarnya tak pernah terdengar. Baru pada akhir tahun 1980-an, Oei Tjoe Tat dikabarkan menulis surat pembaca dan majalah Tempo, sehingga majalah ini mendapat peringatan oleh Departemen Penerangan. Pada 1985 sepulang mengikuti misa Jum'at Suci, terkena stroke. Sejak November 1992, harus menjalani berbagai macam operasi dan meninggal tahun 1996 karena penyakit kanker prostat.