Nyai

Perempuan yang berprofesi sebagai pembantu atau inang pengasuh, bahkan budak di Batavia. Para Nyai ini membawa pengaruh akibat interaksinya dengan majikan serta masyarakat sekitar. Para Nyai tersebut juga memperkenalkan hal-hal baru yang mereka peroleh sebelumnya, memperkenalkan etika barat, minuman keras, busana bahkan kesehatan (kebersihan). Nyai atau sering disebut juga huishoudster merupakan suatu gejala umum, karena kekurangan wanita perempuan yang sudah dewasa sehingga dibelinya nyai-nyai tersebut sebagai budak, yang merupakan suatu pilihan untuk mengisi peranan isteri.

Selain itu, juga istilah untuk gundik, selir atau wanita peliharaan lelaki Belanda. Sesuatu yang unik, hadirnya budak-budak perempuan turut menghidupkan praktik kumpul kebo, cinta gelap dan "pernyaian" di Batavia. Ini dapat dimaklumi karena sejak awal kedatangan bangsa Belanda ke Batavia para pedagang dan tentara Belanda tidak membawa istri mereka, apalagi sebagian di antara mereka adalah bujangan. Pada saat itu Jan Pieterzoon Coen selaku Gubernur Jenderal telah menghimbau kepada Heeren XVII untuk mendatangkan gadis-gadis yang telah matang dari Nederland agar dapat menikah dengan karyawan yang bertugas di Batavia. Namun himbauan ini ditolak. Maka terpaksalah mereka mengambil wanita pribumi untuk teman hidup. Karenanya, lahirlah anak-anak indo dari rahim sang nyai.