NUSANTARA, SKH

Surat kabar harian penerus Nieuwsgier, yang terbit di Jakarta sejak tahun 1957 setelah pemerintah Indonesia melarang semua penerbitan pers berbahasa Belanda. Pemimpin redaksi harian ini, dan Nieuwsgier sebelumnya, adalah Tengku Dzulkafli (T.D) Hafas, sarjana hukum lulusan Universitas Leiden, Belanda. Harian ini tergolong surat kabar yang sangat kritis terhadap pemerintah. Nusantara dilarang terbit mulai tanggal 29 September 1960, hampir bersamaan dengan pelarangan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Surat kabar Nusantara terbit kembali pada tahun 1967, masa awal orde Baru, seperti juga harian-harian Abadi, Indonesia Raya dan Pedoman, yang sama-sama mengalami larangan terbit pada masa orde Lama. Pada tahun 1972, pemerintah mengajukan pemimpin redaksinya, Hafas, ke pengadilan dengan tuduhan "menyebar kebencian" dan menghina presiden serta pemerintah melalui tulisan-tulisan mengenai masalah korupsi dalam pemerintahan. Nusantara termasuk di antara 11 surat kabar dan satu majalah berita yang dilarang terbit oleh pemerintah tanpa batas waktu, pada saat terjadi peristiwa Malari tahun 1974. Sejak itu, Nusantara tidak muncul lagi.