NJOO CHEONG SENG

Peranakan Tionghoa yang dikenal sebagai penulis novel, cerita pendek (cerpen),drama, dan puisi dalam bahasa Melayu Rendah atau Melayu-Cina. Ia termasuk seorang penulis yang paling produktif dalam periode sebelum perang. Ia bukan saja pengarang novel, melainkan juga penulis skenario dan sutradara. Karyanya yang terbesar berupa novel. Nama lainnya adalah Munzil Anwar namun ia kerap pula menggunakan berbagai nama samaran seperti Monsieur Amor, Monsieur D'Amor, N.C.S., atau N.Ch.S.

Njoo mulai menulis novel pada tahun 1919, dengan menerbitkan Cerita Penghidupan Manusia. Ia juga kerap menulis di beberapa surat kabar Cina peranakan. Pada 1923, Njoo menjadi kepala redaksi majalah Interocean di Surabaya. Bersama Ong Ping Lok dan Liem Kin Hoo, ia menerbitkan serial novel bulanan bernama Penghidupan (1925). Sebagai novelis, Njoo telah menulis sekitar 200 judul, selain juga menulis ratusan cerpen dan puisi (pantun dan syair).

Sebagian besar novelnya mengambil setting berbagai daerah di Indonesia karena Njoo kerap berkeliling Indonesia dan negara tetangga dalam lawatan rombongan sandiwaranya. Namun kebanyakan novelnya hanya mementingkan segi hiburannya belaka, yakni masalah percintaan, tanpa mendalami problematik kedaerahannya. Njoo juga menulis novel detektif, dengan tokohnya yang terkenal Gagak Lodra. Karyanya yang lain mencakup Swami yang Buta (1923), Wali yang Curang (1923), Penggoda (1925), Buat Apa Ada Dunia (1929), Bantimurung (1932), Marisang Manukwari (1935), dan Cagak Lodra Series (1938).

Njoo menulis pula banyak buku drama untuk dipentaskan. Ia giat sebagai penulis naskah sandiwara dalam rombongan Miss Riboet, Orion, Dardanella, Bintang Surabaya, dan Pancawarna. Njoo menikah empat kali, di antaranya dengan Dewi Maria (Fifi Young).