NGELAMAR

Tingkat paling awal dari urutan upacara adat perkawinan Betawi. Pada saat ngelamar atau melamar ini merupakan tahap dalam perkawinan di mana sang pemuda memberitahukan kepada pihak orang tuanya agar pergi melamar gadis idamannya. Biasanya setelah seorang pemuda menentukan pilihannya, maka pihak keluarganya akan mendatangi keluarga gadis pilihannya tadi. Adapun yang dikirim sebagai utusan biasanya keluarga yang dekat sebanyak dua atau tiga orang, dan jarang sekali orang tuanya sendiri. Lamaran dalam tradisi Betawi dilakukan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Ngelamar merupakan pernyataan dan permintaan resmi dari keluarga laki-laki (Calon Tuan Mantu) kepada keluarga wanita (Calon None Mantu), dan ditegaskan bahwa Si Fulan sangat berhasrat mempersunting dan memperistrikan Fulanah. Saat itu juga keluarga laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut.

Dulu orang-orang Betawi mengutamakan utusan ini adalah keluarga yang sudah haji atau yang memahami masalah keagamaan, dengan harapan apabila pembicaraan sampai pada tahap tandeputus, semua perencanaan ke depan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kehadiran pihak keluarga ibu maupun pihak keluarga bapak dari Calon Tuan Mantu dalam rombongan utusan ngelamar ini merupakan pertanda bahwa pihak yang diwakili telah menyetujui rencana dan pelaksanaan lamaran. Dengan ini pula diharapkan nantinya lamaran akan sampai pada tahap pernikahan dan pada saatnya nanti keluarga baru itu akan membina keluarganya menjadi keluarga sakinah yang langgeng penuh kasih sayang serta saling hormat-menghormati. Dari pihak Calon None Mantu diharapkan hadir pula orang-orang yang memiliki hubungan serupa dengan pihak Calon Tuan Mantu. Hal ini sebagai lambang bahwa kedatangan utusan orang tua Calon Tuan Mantu diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Calon None Mantu.