Nenek Jenab Dan Buaya Buntung

Legenda Jakarta, menceritakan tentang Jenab, seorang anak hartawan di kampung. Ia gadis yang rupawan dan cantik jelita, tetapi tabiatnya angkuh. Sungguh sempurna kecantikan ragawinya namun jiwanya sangat bertolak belakang, perangainya sangat buruk dan kasar. Banyak pemuda yang mencoba melamar, tetapi semua ditolak. Bagi Jenab, lelaki yang pantas baginya adalah lelaki gagah perkasa, tampan dan banyak harta. Rumus itu menjadi pegangan dalam menilai laki-laki yang datang padanya.

Di kampungnya menetap seorang pemuda gagah perkasa, tampan dan kaya raya. Tetapi pekerjaannya merampok di tempat lain dan hal ini tidak diketahui penduduk kampung. Pemuda itu membuat perjanjian dengan jin Ifrit dalam pertapaannya agar kaya dan disegani. Jin Ifrit menawarkan ilmu tinggi dengan satu syarat adalah tiada menikah dengan wanita, bila dilanggar maka pemuda itu berubah menjadi buaya dan disanggupi pemuda itu. Namun perjanjian itu dilanggarnya, karena pemuda itu datang ke rumah Jenab dan melamar Jenab yang langsung diterima Jenab dengan suka cita. Hasil dari pernikahan mereka lahir seorang anak lelaki bernama Miin yang sifat dan perangainya merupakan warisan bapaknya. Miin cacat seumur hidup ketika dia mencuri buah di rumah pak Haji, yang menebaskan goloknya ke di tulang pinggul Miin hingga tulang retak.

Suatu ketika jin Ifrit datang menagih janji pada suami Jenab yang telah dilanggarnya, sehingga jin tersebut merubah suami dan anaknya menjadi buaya. Buaya besar adalah suaminya dan buaya kecil tanpa ekor adalah Miin anaknya, yang turun dari ranjang untuk mencari jalan menuju ke sungai. Jenab tetap berada di tepi sungai sepanjang kurun umurnya, sampai rambutnya memutih. Jenab yang muda dan cantik berubah menjadi nenek tua dengan uban putih. Belakangan Jenab hanya memanggil nama seekor buaya dengan Miin, maka muncullah seekor buaya tanpa ekor yang disebut orang buaya buntung, sedangkan yang seekor lagi telah lama mati.