NASSAUKERK

Disebut Nassaukerk, karena gedung ini terletak di pojok sudut jalan yang dahulu bernama Nassauboulevard (kini Jl. Imam Bonjol). Dibangun tahun 1936, dua tahun sesudah Gereja Theresia, kemudian namanya diubah menjadi Gereja Paulus, GPIB Jemaat Paulus. Terletak di Jl. Taman Sunda Kelapa No. 12, Jakarta Pusat.

Sekitar tahun 1926, beberapa tahun setelah kawasan Menteng dikembangkan di Batavia, baru terdapat tiga buah gereja Protestan, yaitu De Portugese Buitenkerk (Sion), De Nieuw Haantjeskerk (Pnile) dan De Willemskerk (Immanuel). Dengan demikian dirasa perlu untuk mendirikan gereja di lingkungan Menteng. Atas inisiatif jemaat, maka sejak tahun 1926 mulai dikumpulkan dana secara swadaya, sehingga pada tanggal 3 Januari 1936 dapat dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gereja yang diberi nama Nassaukerk. Gereja Paulus dirancang oleh AIA Bureau kerjasama dengan Firma Sitzen en Louzada. Arsitek perancang Ir. W.E. Burhoven Jaspers. Pelaksanaan pembangunan dirancang oleh F.J.L. Ghysels, Hein Avon Essen, dan E Stolz dari Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA), hanya berlangsung enam bulan (cukup singkat untuk ukuran waktu itu). Dengan demikian gereja diresmikan pemakaiannya pada tanggal 6 Juni 1936.

Pada masa penjajahan Jepang gereja tersebut dikenal dengan nama Gereja Menteng. Seiring perkembangan zaman bentuk bangunan tidak banyak mengalami perubahan. Atap berbahan sirap yang cukup curam merupakan penyederhanaan atap gothik-nya masih seperti dahulu, demikian pula jendela-jendela, kursi-kursi jati dan lantai ubin semen abu-abu masih terawat baik. Namun sayangnya orgel pipa yang sudah kuno tidak dapat digunakan lagi. Dalam setiap kebaktian pada awalnya menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. Namun sejak tahun 1944 bahasa Melayu mulai digunakan, saat jemaat mulai bertambah banyak. Sejak tanggal 31 Oktober 1948 menggunakan nama "Paulus". Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) Jemaat Paulus menerima penghargaan Sertifikat Sadar Pemugaran 1993.