Nasjah Djamin

Sastrawan dan pelukis yang dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara pada 24 Desember 1924, meninggal di Yogyakarta, 4 Desember 1997. Berpendidikan SD, SMP (tidak tamat), seni lukis di Sanggar Seniman Indonesia Muda Yogyakarta (di bawah asuhan S. Sudjojono, Affandi, dan Soedarsono; 1947-1948), dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai art & setting untuk pentas, film dan televisi di Tokyo, Jepang (1960-1963). lkut mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (Medan, 1945), Gabungan Pelukis Indonesia (Jakarta, 1948), dan Teater Indonesia. Pernah menjadi redaktur majalah Budaya di Yogya (1995-1962), dan dari tahun 1952 hingga 1980 bekerja di Bagian Kesenian Departemen P & K Yogyakarta.

Dramanya, Sekelumit Nyanyian Sunda (1958), mendapat Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K 1958 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Novelnya, Bukit Harapan (1984), menggondol hadiah Sayembara Penulisan Roman DKJ 1980. Novelnya yang lain, Ombak Parangtritis (nr, 1983) meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1983.

Karyanya yang lain: Si Pai Bengal (ca, 1952), Hang Tuah (ca, 1952), Titik- Titik Hitam (d, 1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (kc, 1962), Hilanglah si Anak Hilang (n, 1963); juga terbit dalam bahasa Perancis), Sekelumit Nyanyian Sunda (kd, 1964), Helai-Helai Sakura Gugur (n, 1964), Di Bawah Kaki Pak Dirman (kc, 1967), Malam Kuala Lumpur (n, 1968), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (n, 1968), Sebuah Perkawinan ( kc, 1974), Yang Ketemu Jalan (n, 1981), Dan Senja pun Turun (n, 1982), Han'-han' Akhir si Penyair (c, 1982), Tresna Atas Tresna (n, 1983), Bukit Harapan (n, 1984), Tiga Puntung Rokok (n, 1985), Ombak dan Pasir (n, 1988), dan Ibu (n, 1988). Tahun 1970 ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI.