MUSEUM TEKSTIL

Museum Tekstil merupakan sebuah cagar budaya yang secara khusus mengumpulkan, mengawetkan, serta memamerkan karya-karya seni yang berkaitan dengan pertekstilan Indonesia. Bertempat di Jalan Aipda K.S. Tubun No.4, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, museum ini secara resmi dibuka pada tanggal 28 Juli 1976 dan berdiri dengan menempati gedung tua di atas areal seluas 16.410 meter persegi.

Dalam sejarahnya, gedung yang digunakan sebagai museum ini dahulu merupakan rumah pribadi seorang warga keturunan Perancis yang hidup di abad ke-19 dengan gaya Islam. Namun gedung ini kemudian dijual pada seorang anggota konsulat Turki bernama Abdul Aziz Al Musawi Al Katiri. Pada tahun 1942, gedung ini dijual lagi kepada orang yang bernama Karel Cristian Cruq/Vermeulen, seorang bujangan penjual barang antik. Pada zaman perjuangan, tahun 1945 menjadi markas Pemuda Barisan Pelopor dan BKR, 1947 menjadi tempat tinggal Lie Siong Phin, kemudian dikontrakkan pada Dinas Perumahan Departemen Sosial, dan dijadikan rumah tinggal dan penampungan orang- orang lanjut usia. Selanjutnya dikontrak ke keluarga Bee Tjoan Nio dan tanggal 11 Februari 1952 dibeli oleh Abban bin Abubakar Alatas, keturunan Sayid Abdullah bin Alwi Alatas. Empat bulan kemudian, 11 Juni 1952 dibeli Departemen Sosial seharga Rp. 800.000 dan dijadikan asrama pegawai dan dihuni sekitar 40 keluarga, dan akhirnya diserahkan oleh Menteri Sosial Mintareja SH kepada Gubemur DKI Jaya H. Ali Sadikin dan tanggal 25 Oktober dijadikan Museum Tekstil. Tidak begitu lama, gedung ini pun beralihtangan lagi dan dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR) pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, kepemilikan gedung ini dipegang oleh seseorang yang bernama Lie Sion Phin. Selanjutnya dikontrak ke keluarga Bee Tjoan Nio dan tanggal 11 Februari 1952 dibeli oleh Abban bin Abubakar Alatas, keturunan Sayid Abdullah bin Alwi Alatas. Empat bulan kemudian, 11 Juni 1952 dibeli Departemen Sosial seharga Rp. 800.000 dan dijadikan asrama pegawai dan dihuni sekitar 40 keluarga, dan akhirnya diserahkan oleh Menteri Sosial Mintareja SH kepada Gubemur DKI Jaya H. Ali Sadikin dan tanggal 25 Oktober 1975 dijadikan Museum Tekstil. Peresmian Museum Tekstil dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976.

Pada tahun 1975 diserahkan ke Pemda Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan pada tahun 1976 sebagai Museum Tekstil yang diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976. Museum Tekstil mempunyai fungsi menyimpan, merawat, memamerkan, mendokumentasikan dan mengembangkan hasil tekstil bangsa Indonesia dari berbagai daerah di kawasan Nusantara. Museum Tekstil merupakan satu-satunya museum khusus di bidang pertekstilan di Indonesia, yang berperan antara lain sebagai lembaga suaka tekstil Indonesia dan pusat dokumentasi serta penelitian tekstil tradisional Indonesia. Benda-benda koleksinya berupa kain/pakaian serta peralatan mulai dari bentuk tradisional hingga bentuk yang kontemporer. Museum ini memiliki 907 koleksi yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Koleksi Museum Tekstil dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu kelompok koleksi kain tenun, kain batik, peralatan dan campuran. Pada bagian lain museum menampilkan peralatan tradisional yang erat kaitannya dengan produk-produk kain seperti alat tenun dan batik dari berbagai daerah, sehingga semakin menambah daya tarik tersendiri. Museum Tekstil juga sering menyelenggarakan pameran, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai sebuah museum tekstil terbesar di Indonesia, museum ini mempunyai koleksi-koleksi yang terhitung banyak, yakni sekitar 1.000 buah. Keistimewaan museum ini terletak pada koleksi-koleksinya yang kebanyakan merupakan koleksi tekstil tradisional Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokkan dalam empat bagian, yakni koleksi kain tenun, koleksi kain batik, koleksi peralatan, dan koleksi campuran. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan aneka kain batik bermotif geometris sederhana hingga yang bermotif rumit, seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura, dan Riau.

Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan bendera Keraton Cirebon yang merupakan koleksi pilihan, karena usianya yang paling tua. Bendera itu terbuat dari bahan kapas berupa batik tulis yang berhias kaligrafi Arab. Bendera mirip plakat itu konon merupakan peninggalan bersejarah dari tahun 1776 M yang sangat disakralkan di Istana Cirebon. Pada saat itu bendera tersebut sering dipakai sebagai simbol syiar Islam.

Selain memamerkan koleksi pertekstilan, di museum ini juga terdapat sebuah taman di halaman belakang yang diberi nama Taman Pewarna Alam. Taman seluas 2.000 meter persegi ini berisi pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Penanaman pohon-pohon itu bertujuan mendidik masyarakat agar mengenal dan mengetahui pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.

Keistimewaan lainnya yang terdapat di museum ini adalah kursus membatik. Kursus ini dilaksanakan bersamaan dengan hari-hari buka museum. Kursus membuat batik ini dilaksanakan di sebuah bangunan yang terletak di halaman paling belakang Museum Tekstil. Bangunan ini bergaya rumah panggung lebar yang tak mempunyai sekat di dalamnya. Semua bahan bangunannya terbuat dari kayu dengan cat berwarna coklat tua. Di ruangan ini tidak terdapat pendingin ruangan (AC), karena telah terdapat beberapa jendela yang mengelilingi ruangan untuk mengalirkan udara segar.

Museum Tekstil dibuka untuk umum pada hari Selasa hingga Minggu, sedangkan pada hari Senin dan Hari Besar tutup. Pada hari Selasa hingga Kamis museum ini buka pada pukul 09.00—15.00 WIB. Hari Jumat, museum buka dari pukul 09.00—12.30 WIB dan pada hari Sabtu dari pukul 09.00—15.00 WIB. Sedangkan untuk hari Minggu museum ini buka pada pukul 09.00 hingga pukul 15.00 WIB.