Maulidan

Disebut juga Muludan, merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Berupa kegiatan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW (riwayat lahirnya Nabi Muhammad SAW) sambil diiringi musik rebana, yang merupakan musik khas masyarakat Betawi. Namun sesuai tradisi masyarakat Betawi pembacaan Maulid Nabi juga dilaksanakan saat acara perkawinan, tahlilan untuk acara sunatan, nujuh bulan bahkan kematian sekalipun. Telah menjadi tradisi Betawi bahwa setiap kegiatan muludan menjadi syarat yang seolah wajib. Untuk acara perkawinan berupa aeara selamatan yang dilakukan di rumah pengantin wanita setelah pernikahan dengan membacakan Maulid Nabi. Dalam acara ini pengantin pria tidak diperbolehkan ada di rumah pengantin wanita, dan diam-diam pulang kembali ke rumahnya.

Perayaan Maulid Nabi dapat dilakukan di langgar atau di masjid. Setelah acara utama selesai, makanan yang telah dibuat oleh para jamaah akan dibawa ke langgar atau masjid untuk disantap bersama-sama. Makanan yang dihidangkan pun beranekaragam, ada nasi uduk, nasi ulam, nasi sege atau nasi putih yang biasa disertai dengan lauk-pauknya. Makanan yang tidak habis akan dibungkus dengan menggunakan daun jati atau daun pisang untuk dibawa pulang sebagai berekat. Pada tempo dulu, perayaan ini menjadi salah satu ajang silaturahim oleh sebab itu kegiatan ini sering diadakan oleh orang-orang Betawi.