Maharaja Garebag Jagat, Hikayat

Satu karya Muhammad Bakir yang sudah ditransliterasi dengan mengambil setting wayang. Tema hikayat ini berhubungan dengan manusia dan perbuatannya, diumpamakan dengan cerita Petruk Jadi Ratu. Rikayat Maharaja Garebag Jagat memberi ajaran moral bahwa seseorang akan mendapatkan balasan di dunia atas perbuatannya yang memperhinakan orang lain.

Menceritakan tentang Garebag Jagat yang berhasil memperoleh kekuasaannya dan menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya dengan berbuat sewenang-wenang, sehingga ia dihajar oleh otoritas yang lebih tinggi, yaitu para dewa. Lebih dari 90% cerita mengandung adegan peperangan, Garebag Jagat sebenarnya adalah Gurubug bin Semar, yaitu punakawan yang mabuk kekuasaan sehingga suka menantang perang kepada siapa saja. Diantara cerita banyak diselipi bumbu humor Betawi, sebagai ciri khas Muhammad Bakir. Khasanah jenaka Betawi kaya dengan metafora, kepala orang bodoh diumpamakan dengan kepala ubi dan Bakir masih memberikan imbuhan lagi "dimakan tikus", dsb.