KUSUMAH ATMADJA

Ketua Mahkamah Agung RI pertama. Bernama lengkap Effendi Kusumah Atmaja, lahir di Purwakarta (Jawa Barat) 8 September 1891 dan meninggal di Jakarta 11 Agustus 1952. Setelah menamatkan ELS, lalu melanjutkan Rechtschool di Jakarta (1919). Kemudian meneruskan di Universitas Leiden bagian hukum. Tahun 1923 ia menyandang gelar Doctor in de Rechtsgeleerdheid (doktor Ilmu Hukum) dengan tesis De Mohammedaanse Vrouw Stichtingen in Indiii. Sekembalinya di Indonesia langsung bergerak dalam bidang kehakiman di berbagai kota di Jawa dan Sumatera, antara lain Bogor, Indramayu, Semarang, Padang, Medan, dan Jakarta.

Dialah yang mengadili perkara "Peristiwa 3 Juli" (1946). Ketika harus mengadili teman-temannya sendiri, antara lain Mr. Muhammad Yamin dan Mr. Budiarto, ia kemudian mengeluarkan ungkapan yang kemudian menjadi terkenal, yaitu "Meskipun bumi runtuh dan langit pun jatuh, keadilan harus ditegakkan." Keduanya dikenal sejak masa kuliah dan dalam gerakan kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Jepang, Kusumah Atmaja tetap bekerja di bidang pengadilan, dan berusaha sebisa-bisanya untuk membela kepentingan rakyat kecil. Sesudah Indonesia Merdeka, ia ditugasi membentuk Mahkamah Agung dan diangkat menjadi Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Di samping itu, ia bertugas pula sebagai guru besar pada Sekolah Tinggi Kepolisian dan Universitas Gajah Mada. Dua kali ia diangkat sebagai penasihat delegasi Indonesia dalam perundingan dengan pihak Belanda, yakni dalam Perundingan Linggajati dan Konferensi Meja Bundar. Belanda membujuknya agar mau bekerjasama. Pada tahun 1947 ia ditawari menjadi Wali Negara Pasundan dan kemudian menjadi Ketua Mahkamah Agung ciptaan Belanda. Kedua tawaran itu ditolak dengan tegas.

Kusumah Atmaja tetap memegang jabatan Ketua Mahkamah Agung dalam masa Republik Indonesia Serikat (RIS) maupun setelah terbentuknya kembali Negara Kesatuan RI. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 1952 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Berdasarkan Keppres RI No. 124/1965, diangkat menjadi pahlawan kemerdekaan nasional. Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan sebagai nama jalan yang terletak di daerah Menteng, Jakarta Pusat.