KUNINGAN

Kawasan Kuningan dibelah oleh Kali Malang. Sejak dimulainya Proyek Kuningan tahun 1970 dari Menteng menuju Kuningan dihubungkan dengan jembatan permanen. Sampai 1949, jembatannya masih bersifat darurat. Jalan ke ke kawasan ini baru diaspal 1975. Pada masa lalu, terkenal sebagai kawasan peternakan sapi yang menghasilkan susu segar. Setiap pagi dan sore melintas ratusan pembawa susu beriringan dengan sepeda. Susu sapi yang diproduksi para peternak di daerah ini, mereka jual ke daerah hilir (utara): Menteng dan sampai Jakarta Kota. Susu dikemas dalam botol masing-masing berisi 1/4, 1/2, dan 1 liter.

Para peternak ini di sekitar rumahnya memiliki pekarangan rumput untuk makanan ternak. Ketika terjadi penggusuran pada 1970an, yang paling banyak mendapat ganti rugi adalah para peternak. Karena mereka memiliki pekarangan rumput yang luas. Di samping beternak dan konveksi, penduduk Kuningan juga banyak berjual tahu ke daerah Menteng. Sedangkan ampas tahu digunakan untuk makanan sapi. Buah-buahan juga merupakan hasil mata pencaharian penduduk Kuningan. Begitu subur tanahnya, hampir semua buah terdapat di sini. Saking banyaknya pohon duren, hingga terdapat Kampung Pedurenan. Sedangkan dari kebon kelapa, mereka membuat minyak kelapa yang dijual ke kawasan elit Menteng.

Di masa lalu, Kuningan juga merupakan salah satu pusat tempat mencetak para ulama dan kiai di Jakarta. Di sini, terdapat guru Mughni kawan seperjuangan pendiri NU, KH Hasyim Ashari. Masih banyak lagi kiai dan ulama terkenal dari Kuningan seperti KH Razak Makmun dan KH Ali Sibron Malisi. Puluhan tahun silam, di Kuningan berdiri madrasah 'Raudatul Mutaalim', di Kelurahan Kuningan Barat.