KRUKUT, KAMPUNG

Kampung tua di Jakarta. Asal usul nama Krukur ada beberapa pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa krukut berasal dari nama buah Krokot yang banyak tumbuh di kampung itu. Kedua, krukut berasal dari nama sindiran yang diberikan oleh orang Betawi kepada orang-orang Arab yang hidupnya sangat hemat dan cenderung kikir. Semula disebut kedekut namun diganti krukut agar mereka tidak tersinggung. Pendapat ketiga, krukut berasal dari bahasa Belanda kerkhof yang artinya kuburan. Karena dulu daerah ini merupakan kuburan orang-orang pribumi. Penduduk yang pertama menghuni Kampung Krukut adalah orang Jakarta asli (Betawi) dan sedikit orang Jawa.

Pada mulanya mendiami daerah Krukut bagian Timur, bagian Barat belum mempunyai penghuni karena masih merupakan empang, Lokasi yang didiami oleh penduduk adalah dari batas Jl. Gajah Mada sampai Jl. Kejayaan, sedangkan dari Jl. Kejayaan sampai kali Cideng/Krukut masih merupakan empang. Tapi tidak lama kemudian akibat lajunya pertambahan penduduk di wilayah Krukut, daerah yang tadinya empang sudah mulai diolah penduduk menjadi pemukiman. Perkembangan tersebut menyebabkan para pedagang dari dalam maupun dari luar negeri banyak yang menginjakkan kaki ke Jakarta. Diantaranya adalah pedagang-pedagang Cina dan Arab.

Para pedagang tersebut memilih daerah Krukut menjadi sasaran terutama bagi mereka yang baru datang dari Arab. Hal ini karena Krukut sangat dekat dengan pusat perdagangan Jakarta waktu itu. Mereka juga ikut menyebarkan agama Islam di Krukut dan biasanya adalah kaum laki-laki. Usaha penyebaran agama ini diterima dengan baik oleh masyarakat Krukut, terlihat dengan adanya kerjasama dengan tuan tanah Krukut. Hubungan baik tersebut adakalanya dilanjutkan dengan tali persaudaraan berupa perkawinan antara laki-laki Arab dengan wanita Jakarta. Hubungan dengan Arab Krukut dengan negeri Arab masih berjalan dengan baik. Jika ada pedagang-pedagang Arab yang datang ke Jakarta selalu lebih dahulu singgah di rumah orang Arab Krukut. Orang-orang yang datang ke daerah ini diantaranya berasal dari suku Alkatari, Alaydrus, Alatas dsb.

Kondisi Kampung Krukut yang strategis karena diapit dua sungai, menarik banyak pendatang seperti pedagang Cina dan Arab dari Handramaut, orang-orang Sunda, Banten dan Bugis. Orang-orang Arab yang semula merupakan mayoritas dalam jumlah maupun dalam perdagangan akhirnya lambat laun tergeser oleh orang-orang Cina, sehingga banyak dari mereka yang berpindah ke daerah. Bahkan ada pula yang pergi ke daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan daerah lainnya. Majemuknya suku bangsa yang menetap di Krukut telah mempengaruhi budaya, agama, juga sedikit perbedaan yang khas dalam bahasa. Istilah-istilah yang muncul sebagai akibat dari interaksi komunikasi yang saling mengisi dan mempengaruhi seperti dari bahasa Arab ada istilah ana (saya), ente (kamu) atau jidus (uang).

Mengenai mata pencaharian penduduk Krukut mayoritas bergerak dalam sektor perdagangan. Adat istiadat lama yang masih diterapkan dalam kehidupan penduduk Krukut kebanyakan mengacu pada ajaran Islam seperti pada saat perkawinan, meminang, kehamilan, kelahiran, khitanan, dan kematian. Budaya Betawi sebagai kesenian tradisional di Kampung Krukut, telah mendapat pengaruh dari Arab dan Cina. Pengaruh dari Arab, misalnya Sambra, Rebana, Gambus, Kasidahan modern, dll. Sedang pengaruh dari Cina dapat dilihat dalam tari Cokek, Lenong, Barongan Naga, wayang Cina, dll. Beberapa kesenian yang sampai saat ini masih eksis di Krukut adalah jenis kasidahan yang merupakan pembaharuan dari seni rebana dan Pencak Silat.