Kramat Raya, Peristiwa

Kramat Raya merupakan daerah di Jakarta yang mempunyai tingkat frekuensi dan kualitas pertempuran paling tinggi dalam kurun waktu 1945-1949. Di sekitar daerah ini banyak mengalami korban terutama orang-orang tua, wanita, dan anak-anak akibat pelum nyasar atau pertempuran yang secara sporadis terjadi. Pemberontakan dan perlawanan biasanya dilakukan gerakan bawah tanah, badan perjuangan, dan organisasi rakyat. Konflik internal dalam diri komponen RI telah menimbulkan persoalan tersendiri pasca kemerdekaan, yang memerlukan waktu cukup lama untuk meredamkan berbagai gejolak antar-kelompok yang tak sejalan.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 terjadi pertempuran di Jl. Kramat Raya, terutama di daerah Kemolong (Kramat IV), Gg. Listrik (Kramat III) dan sepanjang Jl. Kramat Raya. Dalam pertempuran ini pihak musuh mengalami kerugian besar akibat tewasnya pasukan sekutu dan terampasnya senjata-senjata oleh pasukan pemuda pejuang yang dipimpin Bang Pi'ie. Pertempuran sehari terjadi 17 November 1945 di sekitar. Kramat Raya, antara pasukan pejuang bersenjata dengan pasukan NICA di daerah Kramat, Tanah Tinggi, Senen, Jakarta dan sekitarnya. Pasukan Nica dengan membabi buta menembaki rakyat. Mereka melakukan pula di daerah Tanah Tinggi, Kramat Pulo, dan Gg. Sentiong dengan mortir. Banyak rumah-rumah rakyat yang dibakar sampai habis sehingga menimbulkan 3 orang korban yaitu: M. Tabri, Ibrahim (Alm) dan Harun.

Pertempuran sengit berkobar pula di daerah Medan Senen (sekarang muka Proyek Senen). Pasukan pemuda pejuang di bawah pimpinan Bang Pi-ie, Hermanus Panggabean, M. Sidik Kardi dan Ma'mun, pasukan pemuda pejuang Tanah Tinggi yang bermarkas di Gedung Pabrik Limun Landre dan Zoom n. Kramat Raya 43 (sekarang PT Astra Graphia) pimpinan M. Supardi Shimbad, pemuda pejuang Gg. Sentiong pimpinan K.A. Rasyid, Kami, Rameni Kid, pasukan pemuda pejuang Kampung Rawa dan Pulo Gundul pimpinan Harun Rasyid, pasukan pemuda pejuang Bungur, Kepu, Kemayoran pimpinan Kaicang, Mashud dan Mohd. Saleh, pasukan pemuda pejuang Kris pimpinan Sumilat dan Palar, kesemuanya mengadakan serangan dan perlawanan sengit, sehingga sebuah tank NICA lumpuh. Keadaan ini terjadi persis di samping Bioskop Grand (Pasar Burung Lama).

Pasukan di bawah pimpinan Bang Pi-ie dan Dogol dalam pertempuran tersebut berhasil merampas puluhan senjata diantaranya 3 Karabyn, Stengun, Pistol dan beberapa puluh pasang sepatu batao Beberapa senjata dan JIP juga berhasil dirampas di Jl. Kramat Raya, Gg Acong (Kramat 1) muka Kantor Pos pembantu, selain sebuah JIP merk Ford yang kemudian disembunyikan di Jl. Gandasuli Tanah Tinggi. Pada peristiwa 8 November 1945, Rachman Zakir dan Daan Anwar tertembak, saat keduanya keluar dari Markas pemuda Trem di Jl. Kramat Raya (depan Gg. Kramat Lontar) menuju kantor KOWANI di Kramat VIII. Tentara NICA tiba-tiba menangkapnya dan dibawa ke markas. Namun dua orang pembantunya (NICA Ambon) memerintahkan tembak di tempat saja. Daan Anwar dan Rachman Zakir diperintahkan sembahyang tapi sebelum selesai mengucap kalimat sahadat, NICA menembaknya. Zakir terkena lima peluru di kaki, pundak tangan dan perutnya, sedang Anwar kena di matanya. Beberapa anggota pejuang mengetahui kejadian tersebut dan membantu membawanya ke RS. Tanggal 11 Januari 1946, Daan Anwar yang mengganti namanya Alwi, dapat pulang dari RS. Setelah kejadian itu datanglah Bang Pi-ie berikut pasukan khususnya dari Markas OPI Gedung REX Senen, dengan bersenjata lengkap, juga pasukan pemuda pejuang Batak pimpinan Hermanus Panggabean, Kristop Sitompul, pasukan pemuda KRIS pimpinan Sumilat, Lapar, Solang dan Palar. Akhirnya terjadi pertempuran sengit dan dahsyat selama dua hari dua malam.

Terjadi satu peristiwa pembakaran rumah rakyat sampai habis di daerah Pejambon oleh Tentara NICA pada 21 November 1945. Bahkan penduduk yang akan menyelamatkan diri dari kobaran api ditembak secara membabi buta, sehingga korban semakin banyak. Peristiwa ini sebenarnya rangkaian pertempuran antara pejuang bersenjata dengan pasukan NICA di daerah Kramat, Prapatan Menteng, Tanah Abang dan daerah lainnya. Ketika itu pasukan BKR/ TKR dalam keadaan konsinyir, karena 19 November 1945 harus meninggalkan Kota Jakarta, yang dijadikan tempat perundingan. Pasukan BKR/TKR harus dipindahkan ke sebelah timur kali Cakung, sedangkan Markas Resimen VI berkedudukan di Cikampek dan Opsir sebagai penghubung bermarkas di Jl. Cilacap No.5 Jakarta.