KONG HOA SIE

Disebut juga Guang Hua-si. Salah satu wihara di Jakarta yang memegang peranan penting dalam proses pengembangan agama Budha di Indonesia, berkaitan dengan nama yang sarna di Nanshan, Cina. Kong Hoa Sie merupakan satu klenteng atau wihara yang cukup besar dan luas di Jakarta. Klenteng Kong Roa Sie didirikan sejak tahun 1951. Awalnya bernama Kong Hoa Sie, yang diambilkan dari sebuah nama klenteng kuno di Hok Kian Pou Cheng di Arnoy Tiongkok. Didirikan oleh Lau Ho Siang. Pemeliharaan klenteng ada pada Yayasan Kong Hoa Sie, dengan ketuanya Oey Wen Sehn dan pengurus harian : Sie Keng Hoat.

Kehadiran wihara ini erat hubungannya dengan upaya Yang Arya Sanghanata Aryamula Mahabiksu (Pen Ching Lao Ho Sang) mengembangkan agama Budha di Jakarta. Biksu berasal dari Kong Hoa Sie, cina ini merantau dan menjejakkan kakinya pertama kali di bumi Indonesia pada tahun 1901. Dalam pengembaraannya di Indonesia, ia menetap di Jaarta pkada tahun 1926.

Yang Arya Sanghanata Arya mula Mahabiksu memulai misinya dari sebuah cerita, Gok Lan Tong, di daerah Petak Sinkian, Tangki, Jakarta Barat. Setelah tempat ini diserahkan kepadanya untuk diurus lebih lanjut, ia mendapatkan dukungan umat untuk membangun sebuah wihara. Ini terjadi ada tahun 1951, dan sejak saat itu wihara tersebut resmi dinamakan Kong Hoa sie. Di wihara inilah pemah datang calon biksu dari Bogor untuk berguru kepadanya; dialah yang dikenal dengan nama Ashin Jinarakhita, pelopor kebangkitan Agama Budha Indonesia. Bangunan klenteng terdiri dari dua, satu yang lama dan satu yang baru bertingkat dua. Pekarangan depan luas, dengan pintu gerbang yang indah. Luas areal seluruhnya: kurang lebih 500 m2. Pada bangunan baru yang bertingkat terdapat banyak ruanganruangan luas untuk upacara-upacara kebaktian dll, terutama di tingkat atas suatu ruangan besar dengan kursi-kursi lipat pernikel. Pada bangunan aulanya terdapat patung Buddha didampingi dua pengikut atau muridnya dengan karakteristik Tiongkok-kuno. Ketiga patung ini cukup besar dan megah.

Di bagian tengah antara bangunan baru dan lama, terdapat suatu ruangan yang indah untuk sembahyang di mana terdapat pula patung Buddha besar berwarna kuning-emas dan didekatnya ada meja sembahyangan. Secara lengkap dalam klenteng ini pada bagian depan terdapat tiga patung Buddha dan 18 Arhat, sedangkan di ruangan bagian belakang terdapat pula 3 patung Buddha, dan Altar untuk sembahyang kepada Tuhan Alloh dan para Pau Sat. Altar sembahyang terbagi menjadi ruang depan, tengah dan belakang. Disamping itu juga terdapat ruangan untuk upacara peribadatan massal dan ruangan belajar agama Buddha dan membaca mantram.

Pada perkembangannya klenteng ini terawat dengan baik dan rata-rata dua tahun sekali mengalarni perbaikan. Adapun donatur terbesar yang banyak membantu adalah Lo Hau Ka almarhum. Selanjutnya direncanakan untuk memperbesar lagi bangunan dan ruangan di dalam klenteng asalkan sudah ada kemampuan keuangan dari pihak donatur. Secara kelembagaan klenteng tersebut masuk keanggotaan M.A.B.I. (Majelis Agama Buddha Indonesia), diketuai oleh seorang Bhikkhu dari Sangha Agung Indonesia. Jumlah pengunjung untuk bersembahyang tiap hari tidak banyak, sedangkan waktu-waktu yang ramai adalah pada tiap The It dan Tjap Go. Setiap tahun sekali pada bulan Agustus (Tjit Gwe) ada upacara massal.