Kolera

Satu wabah penyakit yang menelan korban cukup banyak di Batavia baik kampung yang dihuni bumiputra maupun Timur Asing. Bahkan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen juga meninggal akibat penyakit kolera tersebut pada tahun 1929. Penyakit kolera yang bersifat akut dengan mudah menyebabkan kematian apabila terlambat mendapat pertolongan. Hal ini sulit diatasi di Batavia mengingat keadaan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang sangat rendah. Tahun 1910 dan 1911 merupakan tahun kolera, selama jangka waktu itu rata-rata tiap 1000 orang bumiputra dikota hulu meninggal dan dikota hili! (Batavia Lama) 148 orang. Pada bulan April mencapai puncaknya dengan 400 orang meninggal.

Cara penyebaran penyakit kolera ini melalui oro faecal route yaitu kuman yang dikeluarkan bersama tinja tertelan oleh manusia yang peka terhadapnya. Kontak manusia dengan kuman ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah kolonial Belanda menyatakan kolera menelan korban hanya pada saat musim Timur (kemarau) dan angka-angka penderita akan segera menurun setelah datangnya hujan lebat, kolera akan lenyap seluruhnya pada musim penghujan dan muncul lagi pada musim Timur (kemarau). Batavia memang lebih sering dijangkiti epidemi kolera dibandingkan wilayah lain di Hindia Belanda. Vibrio Cholera dapat berusia panjang pada tanah-tanah kampung di Batavia, diperparah lagi oleh pencemaran air dan tanah.