Koentjaraningrat

Antropolog Indonesia terpenting, lahir di Yogyakarta, 15 Juni 1923 dan meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999. Sebagai putra pasangan RM Ermawan Brotokoesoemo dan RA Pratitis Tirtotenoyo, RM Koentjaraningrat menerima gelar bangsawan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dari Sri Paduka Paku A1am VIII pada 1990 di Yogyakarta. Meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra UI (1952); gelar MA dari Universitas Yale, Amerika Serikat (1956) dengan tesis: A Preliminary Description ofthe Javanesse Kinship System; gelar doktor dengan predikat cum laude dari Universitas Indonesia (1958).  Sebagai guru besar, selain berupaya mengembangkan jurusan antropologi di universitas negeri lain, juga menekankan agar muridnya memilih subdisiplin antropologi. Ia juga menginginkan partisipasi antropologi yang lebih nyata dalam kehidupan dan pembangunan negara.

Selain mengajar Antropologi di Fakultas Sastra UI, ia juga pernah bertugas sebagai tenaga riset dan Antropologi di Universitas Pitsburgh, Amerika Serikat (1961-1962); guru besar di Utrecht, negeri Belanda (1966-19670; guru besar tamu di Universitas Illiqois, -Amerika Serikat (1968), Universitas Wisconsin, Amerika Serikat (1980) serta mengajar di Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1971-1973 dan 1975-1977). Beberapa buku karangannya antara lain: Beberapa Pokok Antroplogi Sosial (1967); Atlas etnografi Sedunia (1969); Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia (1969); Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1970); Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (1974).

Di samping sebagai ilmuwan, ia memiliki keterampilan yang mengesankan dalam membuat sketsa, dan kemudian mengimbuhinya dalam wama. Ia melakukan pekerjaan seni rupa sejak muda. Namun bakat besar ini terhambat ketika ia menekuni jagat antropologi, dan lantas mengembangkannya lewat jabatan pengajar, di dalam dan luar negeri. Lukisan-lukisan Koentjaraningrat yang manis, spontan, serta menyiarkan tema-tema antropologis, acap dipamerkan dalam pagelaran penting di beberapa negara, Ia cermat melukis figur yang bergerak, lengkap dengan karakterisasi dan suasana
setting-nya. Prestasi artistiknya, ditunjang reputasi manusianya, menyebabkan ia secara aklamasi diangkat menjadi salah seorang pimpinan Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia.