KLASISIME

Gaya bangunan yang banyak digunakan di Batavia pada abad ke-19. Secara umum pada masa itu terdapat bangunan menurut gaya klasisisme (romantik), empire style, dan neoklasisisme. Gaya bangunan klasik ini dikembangkan di negara-negara Kota Yunani (480-325 sebelum M) dan diteruskan dalam Kekaisaran Roma (abad ke-l sebelum M sampai ke-4 sesudah M). Gaya ini dianggap sebagai puncak seni bangunan yang tak tertandingi. Salah satu aliran klasisisme awal abad ke-19 adalah Empire Style (1800-1830), yakni gaya bangunan masa Kaisar Napoleon I(1804-1815). Kaisar ini ingin membantukan cita-cita monumental kekaisaran (empire), yang menyelesaikan Revolusi Perancis. Gaya ini mempengaruhi seni bangunan di seluruh Eropa dan dibawa ke segala penjuru duma. Pada awal abad ke-20 gagasan-gagasan seni bangunan klasik dipromosikan lagi sebagai reaksi melawan gaya Art Nouveau atau Jugendstil atau historisme. Sebab, Art Nouveau mengutamakan garis beralun-alun, dan historisme menggunakan gaya (neo-) gotik, (neo-) barok atau bercorak eklektik, artinya memilih dan mencampurkan rupa-rupa gaya bangunan (seperti pada rumah Raden Saleh atau Museum Tekstil). Pengutamaan gaya geometris dan formal ini lazimnya disebut neo-klasisisme. Untuk membedakan klasisisme abad ke-18 dan ke-19 dari klasisisme awal abad ke-20, maka klasisisme pertama kadang-kadang disebut klasisisme-romantik.

Awalnya gaya klasisisme ini timbul di Batavia dalam bentuk Empire Style, terlihat jelas pada bangunan bekas Harmoni (1811) dan pada Gedung Departemen Keuangan (1809-1828), keduanya dirancang oleh Mayor Schultze, dan pada Gedung Kesenian (1821). Adapun dalam gaya klasisisme dibangun beberapa gedung umum abad ke-19, antara lain Gedung Pancasila (1830), 'Museum' Mahkamah Agung (1848), Balai Seni Rupa (1866), Museum Nasional (1868) dan Istana Merdeka (1871).