KIWARI

Majalah kebudayaan yang terbit sebulan sekali dalam bahasa Sunda sejak Juni 1957 sampai Mei 1958. Didirikan di Jakarta oleh Rukasah S.W. dan kawan-kawan yang juga menjadi redakturnya. Motto yang dipakainya ialah "pamapag komara Sunda" (pengawal wibawa Sunda). Perhatian dan usaha redaksi majalah ini bukan hanya memberikan tempat kepada kreasi baru dalam bahasa Sunda seperti sajak dan cerita pendek, melainkan juga memperkenalkan karya-karya utama karuhun Sunda kepada para pembaca sekarang, di samping itu memuatkan pula terjemahan karya-karya sastra asing. Karena menganggap bahwa banyak orang Sunda yang tidak begitu mengenal peninggalan karuhun-nya sendiri, majalah ini memuatkan kembali cerita pantun Lutung Kasarung yang sebelumnya pemah dipublikasikan oleh Pleijte secara bersambung, di samping memuatkan kembali esai R. Memed Sastrahadiprawira tentang kesusastraan Sunda dan uraian tentang Penca Cikalong yang ditulis oleh R. Moh. Sadeli.

Rukasah SW sendiri dengan mempergunakan nama samaran R. Sungkawa memuat tulisan tentang adanya aksara Sunda Kuna, yang boleh dikatakan tidak dikenal orang Sunda pada waktu itu, yang umumnya beranggapan bahwa aksara Sunda
yang asli ialah Cacarakan yang sebenarnya merupakan pinjaman dari huruf Jawa (hana-ca-ra-ka). Nomor 7/8 majalah ini memuatkan Dasar Pamadegan B.P.B Kiwari yang disertai dengan uraiannya yang ditulis oleh Dodong Jiwapraja. Esai penting lain yang dimuat dalam majalah ini adalah Kakayaan Batin Ki Sunda oleh Utuy Tatang Sontani yang berpendapat bahwa tokoh si Kabayan dan Sangkuriang adalah dua antipoda yang bertentangan namun keduanya merupakan kekayaan batin orang sunda. Sedangkan Yus Rusamsi menulis tentang warna-warna ceria dalam lukisan-Iukisan Hendra Gunawan sebagai warna-warna khas Sunda. Meskipun tidak genap setahun umurnya, karena kurang mendapat sambutan kalangan pembaca Sunda yang menganggapnya sebagai bacaan yang terlalu berat, namun Kiwari berhasil memberikan garis pemikiran yang jelas dalam kehidupan kebudayaan Sunda, karena secara sadar menempatkan diri dalam lingkungan nation Indonesia.