Kidul, Pangeran

Adik dari Sultan Ageng Tirtayasa Banten, putera Sultan Abdul Mali yang ke delapan. Beliau mengikuti mengikuti jejak Syech Yusuf, setelah mengundurkan diri ke pedalaman kemudian mengadakan penyerangan-penyerangan kepada patroli-patroli Belanda yang mengikutinya terus-terusan. Bersama Syech Yusuf dan pasukannya, Pangeran Kidul terus melakukan penyerangan mulai dari Angke, Tangerang, Marunda. Kemudian mengundurkan diri ke daerah pedalaman di atas Jasinga sambil mengadakan pembakaran dan perlawanan terhadap pas-pos serdadu-serdadu Belanda sampai daerah Bogar. Setelah itu masuk Cisarua dan kemudian menerobos ke Cianten. Di daerah ini Pangeran Purbaya memisahkan diri. Pangeran Kidul dan dan Syeh Yusuf beserta pasukannya terus bergerak ke selatan. Mereka terus mengadakan penguberan ke tempat-tempat dimana para pejuang berada. Pangeran Kidul bergerak ke arah selatan berbelok ke barat masuk ke daerah Jampang. Dari daerah ini setelah bertempur hebat-hebatan kemudian maju ke arah Timur Selatan untuk masuk daerah Kandangwesi. Dari sini mereka bergerak ke arah Cilauteureum. Harapan mereka untuk terus ke arah Timur Jawa Tengah guna bergabung dengan pasukan Mataram gagal karena Belanda telah menghadangnya di daerah Padaberang.

Hal itu diketahui oleh Pangeran Kidul dan Syeh Yusuf sehingga mereka bergerak ke arah utara, untuk kemudian bertahan di Gunung Galunggung. Di sini mereka mendapat bantuan dari pasukan Namrud yang telah lama menunggu. Pertempuran
besar-besaran terjadi dengan Belanda. Surapati turut membantu dalam pertempuran ini, namun karena kekurangan senjata dan kelelahan prajurit-prajurit mereka menderita kekalahan yang tidak sedikit. Dalam keadaan terpepet, Pangeran Kidul mengamuk hebat, dan setelah membunuh banyak musuh beliau gugur sebagai pahlawan, tepatnya tanggal 25 September 1683. Makamnya diperkirakan di daerah Limbangan.