Ketupat

Jenis makanan khas Betawi yang disediakan saat Lebaran. Dahulu orang Betawi membuat ketupat dan daun pandan sehingga bau dan rasanya yang legit sangat khas. Ketupat dapat dijumpai di Betawi dan juga daerah-daerah lainnya. Ketupat bagi masyarakat Betawi memiliki arti yang sangat penting, bahkan merupakan suatu kebanggaan apabila dapat merebus 25 hingga 100 buah. Tradisi memasak ketupat sudah ada sejak dahulu kala, saat Jakarta masih bemama Sunda Kelapa. Ketika Fatahillah berhasil mengusir orang Portugis dari Sunda Kelapa dan menguasainya, ia juga berhasil mengislamkan masyarakat yang semula beragama Hindu. Untuk merayakan kemenangan yang kebetulan tepat pada 1 Syawal (Lebaran) itu, masyarakat berbondong-bondong datang ke pantai untuk berpesta dengan membawa ketupat. Sunda Kelapa kemudian diubah namanya menjadi Jayakarta dan ternyata tradisi membuat ketupat masih tetap dilaksanakan hingga sekarang, yakni saat merayakan hari Lebaran.

Untuk membuatnya diperlukan berbagai macam bahan antara lain: daun kelapa yang masih muda dan segar (janur). Masyarakat Betawi biasanya membuat (menganyam) ketupat sendiri, namun demikian di pasar-pasarpun banyak dijual kulit ketupat. Beras sebagai pengisi ketupat, masyarakat Betawi tempo dulu selalu memilih beras yang enak dan mahal harganya yakni bemama beras "Solo", yang ditumbuk. Perhitungan mereka untuk menyambut hari istimewa, beras juga dicari yang istimewa. Selain daun kelapa dan beras, sebagian masyarakat ada yang menggunakan daun pandan wangi, air saringan merang padi yang dibakar serta air kapur sirih. Perlengkapan yang dibutuhkan, antara lain: bakul, blek (bekas kaleng minyak kelapa) dangdang, kompor minyak tanah, kayu bakar yang keras (kayu asam, kayu mangga, atau kayu nangka).

Bagi masayarakat Betawi ketupat memiliki arti dan fungsi sosial tersendiri, mengingat di hari-hari Lebaran waktunya dimanfaatkan untuk saling bersilaturahmi dan tidak sempat lagi di dapur, maka dimasaklah ketupat sebagai pengganti nasi di hari-hari biasa dalam jumlah yang banyak, dan sekaligus diusahakan dapat bertahan lama, sehingga lebih efisien waktu. Masyarakat Betawi akan merasa bahagia bila dapat menjamu tamu, famili, sanak keluarganya dengan menghidangkan masakan ketupat buatannya sendiri Jika tamunya tetangga dekat ditawarkannya masakan ketupat secara akrab dan kekeluargaan. Tetapi bila tamunya saudara atau tetangga agak jauh, maka akan dipotongkan dan diracikan masakan ketupat dihari Lebaran. Hal itu mempunyai fungsi sosial untuk menciptakan hubungan masyarakat yang utuh dan erato Mengekalkan tali persaudaraan yang letaknya berdekatan maupun yang agak berjauhan. Antar tetangga dekat saling terjadi antar-mengantar serta tukar menukar masakan ketupat. Kepada sanak famili, yang muda kepada yang tua menantu terhadap mertua pada malam Takbir mereka menyempatkan berkunjung, mengantarkan masakan ketupat disertai lauk pauk, kue-kue, buah korma dan minuman sirup. Peristiwa dan situasi yang demikian itu hanya terjadi satu tahun sekali, sehingga perlu dirayakan. Pada malam Takbir masyarakat Betawi dengan masakan ketupat menyelenggarakan "Selamatan Malam Takbir", sebagai ungkapan rasa syukur bahwa telah selesai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Pada selamatan tersebut mereka juga mengirim doa kubur untuk arwah para leluhumya yang telah meninggal.