Keroncong Tugu

Musik keroncong digemari oleh masyarakat Tugu di Jakarta Utara. Jenis musik inilah yang menjadi cikal bakal keroncong asli Betawi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Keroncong Tugu. Di tengah para pemukim Tugu, keroncong memang menemukan bentuk yang khas, dibandingkan dengan kroncong Jawa, dari segi tempo keroncong Tugu lebih cepat dan dinyanyikan lebih bersemangat. Karena itu, keroncong Tugu mudah dipakai untuk mengiringi dansa. Perbedaan lainnya, gitar Tugu lain dari yang lain. Ukurannya lebih kecil dari gitar biasa. Senarnya lima. Dan di kalangan penduduk Tugu, gilar mini ini disebut "jitera" yang dibuat dati batang pohon waru yang dibobok. Di zaman dulu, "empu" jitera yang paling termasyur adalah Leonidas Salomons - kini sudah mendiang.

Jejak-jejak Portugis yang masih terlihat dalam keroncong Tugu, di antaranya ialah lagu lama yang hampir setiap orang Indonesia pernah dilelapkan tidurnya dalam buaian atau gendongan dengan lagu tersebut, yang bernama. "Nina Bobok." Lagu ini pada masa lampau dinyanyikan pula dengan gaya keroncong. Kata "Nina" berasal dari "cilik" alias upik. Dalam zaman penjajahan di sekitar tahun tiga puluhan, penyanyi-penyanyi keroncong yang "ngamen" dari restoran ke restoran di kota Batavia, masih menyanyikan keroncong dengan bahasa Portugis.

"Bastiana, Bastiana
Bastiana minja our
Bastiana lensu
Komigu pinhor
Nang querflce tristo
Ficai concolaad
Com Algum dia mais
La fica djuntead ... "

Artinya:

"Bastiana, Bastiana
Bastiana, mestikaku
Setangan Bastiana
Ada bersamaku sebagai tanda
Jangan bersedih,
Tetapi, senangkan hatimu
Karma tak lama pula,
Kita akan bersatu."
Kertabhumi Negara

Dari blantika keroncong Tugu, tak bisa dilupakan nama Jacobus Quiko, yang pada tahun 1975 menerima piagam penghargaan Gubernur DKI Jakarta. Dialah, sejak 1939, memimpin Orkes Keroncong Tugu yang terbilang unik itu. Bersamanya, dikenal Tante Christina, biduanita yang menerima penghargaan yang sarna setahun sebelumnya. Moresco tentulah "lagu wajib" yang tak bisa dipisahkan dari keroncong Tugu. Moresco asli bercerita tentang seorang perawan Muslim asal Moro, yang kemudian termasyur sebagai penari. Ada sepenggal kuplet Moresco dalam dialek Tugu: Anda-anda na bordi de mare/Mienja korsan nunka contenti/Io buskaja mienja amadal Nunka sabe ela ja undi. Adapun maknanya: Jauh-jauh mengarungi samudra/Hatiku tak pernah ceria/Terus mencari belahan sukma/Tapi kini di manakah dia. Selain Moresco, terdapat sejumlah lagu lain, yaitu: Kafrinyo, Prounga, Jankagaletti.