Kepulauan Seribu, Taman Nasional

 

Taman Nasional Kepulauan Seribu

 

Luas

108 Ha (SK Menteri Kehutanan No.162/Kpts-II/95)

107.489 Ha (SK Menteri Kehutanan No. 6310/Kpts-II/2002)

Letak

Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

 

Temperatur Udara

21° - 34° C

Curah hujan Rata-rata

3.000 mm/tahun

 

Ketinggian tempat

0 – 2 meter dpl

 

Musim Barat

November - Februari

 

Musim Timur

Mei – Agustus

Informasi

Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. 

Jl. Salemba Raya 9, Lt. III 

Jakarta Pusat 10440

Telp. (021) 3915773; Fax. (021) 3103574

E-mail: tnlks@indo.net.id

Website: http://www.tnlkepulauanseribu.net/

 

Kawasan pelestarian alam bahari yang ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan ini, secara geografis berada di 5°23’ - 5°40’ LS, 106°25’ - 106°37’ BT, kurang lebih 45 Km di sebelah Utara Jakarta. Tepatnya termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Taman Nasional Kepulauan Seributersusun oleh ekosistem pulau-pulau sangat kecil dan perairan laut dangkal, yang terdiri dari gugus kepulauan dengan 78 pulau sangat kecil, 86 gosong gulau dan hamparan laut dangkal pasir karang pulau sekitar 2.136 hektar (Reef flat 1.994 Ha, Laguna 119 Ha, Selat 18 Ha dan Teluk 5 Ha), terumbu karang tipe fringing reef, Mangrove dan Lamun bermedia tumbuh sangat miskin hara/lumpur, dan kedalaman laut dangkal sekitar 20-40 m. Ratusan tahun lalu, pulau-pulau karang itu terbentuk di atas koloni binatang karang yang sudah mati. Koloni ini pada awalnya tumbuh pada dasar laut yang dangkal, dan lapisan atasnya muncul ke permukaan laut serta mengalami pelapukan. Kemudian di atas daratan karang itu, tumbuh jenis pioner berupa semak, beberapa jenis pohon dan terjadilah daratan. Daratan yang ada di pulau-pulau tersebut tidak sama dengan daratan yang terdiri dari tanah. Demikian juga dengan kekayaan tumbuhan dan satwanya.

Ditinjau dan letak kontinental dan oseanografisnya, wilayah Kepulauan Seribu mempunyai iklim muson laut tropis, yakni adanya pergantian arah angin setiap setengah tahun yang disebut angin muson. Banyaknya uap air laut yang berpengaruh terhadap suhu udara. Hal ini juga sebagai akibat karena Kepulauan Seribu berada pada daerah equator yang mempunyai sistem equator yang dipengaruhi variasi tekanan udara. Dimana musim basah mencapai kondisi maksimum pada bulan Januari, sedang musim kering mencapai puncak pada bulan Juni - Agustus. Pengaruh musim terlihat sebagai tiupan angin Barat Laut - Utara yang kuat selama musim Barat pada bulan Oktober - April; serta angin Tenggara - Timur pada musim Tenggara atau Timur pada bulan Mei - September.

Kondisi iklim di Kepulaun Seribu tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pesisir Teluk Jakarta, dimana termasuk tipe iklim D menurut Schimidt dan Fergusson dengan nisbah jumlah bulan kering dan bulan basah antara 60 - 100%. Musim hujan berlangsung pada bulan November - April dengan jumlah hari hujan antara 10 - 20 hari per bulan dan curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari. Musim kemarau berlangsung antara bulan Mei - Oktober dengan hari hujan antara 4 - 10 hari per bulan dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus. Rata-rata curah hujan bulanan selama 10 tahun terakhir berkisar antara 43 - 510 mm, dimana curah hujan terbanyak (510 mm) terjadi pada bulan Januari dan curah hujan terkecil (43 mm) terjadi pada bulan Agustus. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26,5 °C - 28,5 0C, suhu udara maksimum berkisar antara 29,5 °C - 32,5 0C, sedangkan suhu udara minimum berkisar antara 23,40C- 23,8 °C. Kelembaban nisbi rata-rata berkisar antara 75 - 85 %, sedangkan tekanan udara rata-rata antara 1009,0 -1011,0 mb.

Berdasarkan pengamatan angin permukaan menunjukkan bahwa angin dominan di Kepulauan Seribu adalah angin timur. Dikaitkan dengan arah angin dominan yang terjadi tersebut, karakteristik arah gelombang datang teramati yaitu 130° (dan Timur-Tenggara) menunjukkan adanya ketergantungan gelombang terhadap angin. Tinggi gelombang di Kepulauan Seribu pada musim Barat adalah sebesar 0,5 - 1,5 m, sedangkan pada musim timur sebesar 0,5 - 1,0 meter. Benvariasinya tinggi gelombang ini dikarenakan terdapat perbedaan kecepatan angin musim yang bertiup di atasnya

Suhu dan salinitas air permukaan laut di Kepulauan Seribu secara umum berkisar antara 30- 34°/oo.Salinitas air permukaan pada musim barat, musim timur dan musim pancaroba tidak berfluktuasi secara nyata. Kecerahan perairan berkisar antara 3-8 meter, sedangkan kekeruhannya berkisar antara 0,5-1,1 NTU yang bervariasi dimana pada musim barat umumnya mempunyai kecerahan lebih rendah dan kekeruhan lebih tinggi dibanding musim timur.

Potensi Sumber Daya Alam

Fauna di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu diperkirakan ada kurang lebih 17 jenis burung, 350 jenis ikan karang, 2 jenis kima, 3 kelompok ganggang, 101 jenis moluska, 237 jenis terumbu karang, dan 6 jenis rumput laut. Sementara itu, flora  di Taman Nasional Kepulauan Seribu didominasi tumbuhan pantai. Kekayaan kehidupan laut taman nasional ini terdiri dari karang keras/lunak sebanyak 54 jenis, 144 jenis ikan, 2 jenis kima, 3 kelompok ganggang dan 6 jenis rumput laut. Sebagian besar pantai-pantai di taman nasional ini dilindungi oleh hutan bakau, dimana hidup biawak, ular cincin emas dan piton.

Pulau-pulau di Kepulauan Seribu umumnya dikelilingi oleh terumbu karang tepian (fringing reefs) pada kedalaman 0,5 - 10 meter. Jenis-jenis karang yang dapat ditemukan di sini termasuk ke dalam jenis karang keras (hard coral) dan karang funak (soft coral). Kondisi terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu umumnya berada di wilayah Kepulauan Seribu utara di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu dengan kategorikan rusak sampai sedang. Presentase penutupan karang hidup di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu berkisar antara 4,3 - 50,7 % dan dominasi tutupan unsur-unsur abiotik seperti pasir, pecahan karang, serta karang mati umumnya telah melampaui 50%. Kerusakan terumbu karang ini sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan pengambilan karang untuk bahan bangunan dan cara penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan bahan kimia.

Dari Pengamatan yang dilakukan selama kurun waktu 22 tahun oleh berbagai instasi tercatat jenis terumbu karang yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu mencakup 68 genera dan subgenera dengan 134 spesies. Sedangkan dan berbagai penefitian ditemukan bahwa di kawasan Kepulauan Seribu secara keseluruhan terdapat sekitar 276 jenis karang di wilayah Kepulauan Seribu Utara dan Selatan.

Taman Nasional Kepulauan Seribu mempunyai sumber daya alam yang khas yaitu keindahan alam laut dengan ekosistem karang yang unik seperti terumbu karang, ikan hias dan ikan konsumsi, echinodermata, crustacea, molusca, penyu, tumbuhan laut dan darat, mangrove, padang lamun, dan lain-lain.Terumbu karang di kawasan perairan ini membentuk ekosistem khas daerah tropik, pulau- pulaunya dikelilingi terumbu karang tepian (fringing reef) dengan kedalaman 1 - 20 meter. Terumbu karang merupakan salah satu sub sistem ekosistem perairan laut yang produktif, yaitu dengan produktivitas primernya mencapai sekitar 10.000 gram Carbon/m2/tahun, sangat tinggi bila dibandingkan dengan produktivitas perairan laut lepas pantai hanya sekitar 50-100 gram Carbon/m2/tahun.

Jenis-jenis karang yang dapat ditemukan di Taman Nasional Kepulauan Seribu adalah jenis karang keras (hard coral) seperti karang batu (massive coral) misalnya Monstastrea dan Labophyllia; karang meja (Table coral); karang kipas (Gorgonia); karang daun (Leaf coral); karang jamur (Mushroom coral); dan jenis karang lunak (Soft coral). Sedangkan jenis ikan hias yang banyak ditemukan diantara-nya adalah jenis-jenis yang termasuk dalam famili Chaetodontidae, Apogonidae dan Pomancanthidae, sedangkan jenis Ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi antara lain adalah Baronang (Family Siganidae), Ekor Kuning (Family Caesiodiae), Kerapu (Family Serranidae) dan Tongkol (Eutynus sp.). Dari hasil pengamatan terdapat 232 Spesies ikan, dengan kondisi potensi rata-rata 36.132 individuals/hektar, dimana tertinggi 140.875 di taman nasional, dan terendah 1.425 di luar taman nasional dengan ukuran ikan umumnya kecil-sedang.

Echinodermata yang banyak dijumpai diantaranya adalah Bintang Laut, Lili Laut, Teripang dan Bulu Babi yang juga merupakan indikator kerusakan terumbu karang. Crustacea yang banyak dikonsumsi antara lain Kepiting, Rajungan (Portumus sp.) dan Udang Karang (Spiny lobster). Moluska (binatang lunak) yang dijumpai terdiri dari Gastropoda, Pelecypoda, termasuk jenis yang dilindungi diantaranya adalah Kima Raksasa (Tridacna gigas) dan Kima Sisik (Tridacna squamosa).

Selain terumbu karang yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu, disana juga terdapat Padang Lamun. Ekosistem Padang Lamun umumnya berada di rataan terumbu karang, didominasi oleh tumbuhan rumput laut (sea grass) dengan struktur perakaran di dasar perairan. Di Kepulauan Seribu terdapat 4 (empat)famili rumput laut yang hidup pada Padang Pamun, yang didominasi oleh genus Thalassia, Enhalus danCymodoceae. Sedangkan dari jenis alga (sea weed) umumnya ditemukan Halimeda, Sargassum, danCaulerpa.

Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu juga merupakan habitat bagi Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang dilindungi, dan keberadaannya cenderung semakin langka. Dalam upaya pelestarian satwa ini, selain dilakukan perlindungan terhadap tempat-tempat penelurannya seperti Pulau Peteloran Timur, Penjaliran Barat, Penjaliran Timur dan Pulau Belanda, telah dilakukan juga pengembangan pusat penetasan, pembesaran dan pelepas liaran Penyu Sisik di Pulau Pramuka dan Pulau Sepa.

Kegiatan di Pulau Pramuka dan Pulau Sepa tersebut dilakukan dengan cara mengambil telur dari pulau-pulau tempat bertelur untuk ditetaskan secara semi alami. Anak penyu (tukik) hasil penetasan tersebut kemudian sebagian dilepaskan kembali ke alam, dan sisanya dipelihara untuk dilepaskan secara bertahap.

Sementara di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu juga tumbuh flora, baik itu mangrove atau tumbuhan darat yang umumnya ditemukan di pulau-pulau bagian utara seperti Pulau Penjaliran, Pulau Gosong Rengat dan Pulau Nyamplung. Penyebaran mangrove di kawasan ini tidak memiliki zonasi spesies mangrove seperti yang umumnya ditemukan di Teluk Jakarta. Hal ini disebabkan pulau-pulaunya yang sangat terbuka dan tidak terdapatnya sungai di daratan. Jenis mangrove yang ditemukan adalah jenis Rhyzopora stylosa di daerah intertidal dan Nypa frutucans di daratnya.

Umumnya, tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu didominasi oleh tumbuhan pantai, jenis-jenis tumbuhan darat yang banyak ditemukan antara lain adalah Kelapa (Cocos nucifera), Mengkudu/cangkudu (Morinda citrifolia), Ketapang (Terminalia catappa), Butun (Baringtonia asiatica), Sukun (Artocarpus atilis), Pandan Laut (Pandanus tectorius), Sentigi (Pemphis acidula), nyamplung (Calophyllum inophyllum), waru (Hibicus tiliaceus), pandan (Pandanus sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), bogem (Bruguiera sp.), sukun (Artocarpus altilis), ketapang (Terminalia cattapa), dan kecundang (Cerbena adollam).

Zonasi

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Nomor SK.05/IV-KK/2004 tanggal 27 Januari 2004 tentang Zonasi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu sebagai berikut :

Zona Inti Taman Nasional (4.449 Hektar) adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia.Zona Inti I (1.389 hektar) meliputi perairan sekitar Pulau Gosong Rengat dan Karang Rengat pada posisi geografis 5°27'00" - 5°29'00" LS dan 106°26'00" - 106°28'00" BT, yang merupakan perlindungan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Ekosistem Terumbu Karang.Zona Inti II (2.490 hektar) meliputi perairan sekitar Pulau Penjaliran Barat dan Penjaliran Timur, dan perairan sekitar Pulau Peteloran Timur, Peteloran Barat, Buton, dan Gosong Penjaliran, pada posisi 5°26'36" - 5°29'00" LS dan106°32'00" - 106°36'00" BT, yang merupakan perlindungan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Ekosistem Terumbu Karang, dan Ekosistem Hutan Mangrove. Zona Inti III (570 hektar) meliputi perairan sekitar Pulau Kayu Angin Bira, Belanda dan bagian utara Pulau Bira Besar, pada posisi 5°36'00"-5°37'00" LS dan 106°33'36"- 106°36'42" BT, yang merupakan perlindungan perlindungan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Ekosistem Terumbu Karang.

Zona Perlindungan Taman Nasional (26.284, 50 Hektar) adalah bagian kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai penyangga zona inti taman nasional. Zona Perlindungan meliputi perairan sekitar Pulau Dua Barat, Dua Timur, Jagung, Gosong Sebaru Besar, Rengit, dan Karang Mayang, pada posisi geografis 05°24'00"-5°30'00" LS dan 106°25'00"-106°40'00" BT, dan daratan Pulau Penjaliran Barat dan Penjaliran Timur seluas 39,5 hektar.

Zona Pemanfaatan Wisata Taman Nasional (59.634,50 Hektar) adalah bagian kawasan taman nasional yang dijadikan sebagai pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Zona Pemanfaatan Wisata meliputi perairan sekitar Pulau Nyamplung, Sebaru Besar, Lipan, Kapas, Sebaru Kecil, Bunder, Karang Baka, Hantu Timur, Hantu Barat, Gosong Laga, Yu Barat/Besar, Yu Timur, Satu/Saktu, Kelor Timur, Kelor Barat, Jukung, Semut Kecil, Cina, Semut Besar, Sepa Timur/Kecil, Sepa Barat/Besar, Gosong Sepa, Melinjo, Melintang Besar, Melintang Kecil, Perak, Kayu Angin Melintang, Kayu Angin Genteng, Panjang, Kayu Angin Putri, Tongkeng, Petondan Timur, Petondan Barat/Pelangi, Putri Kecil/Timur, Putri Barat/Besar, Putri Gundul, Macan Kecil, Macan Besar/Matahari, Genteng Besar, Genteng Kecil, Bira Besar, Bira Kecil, Kuburan Cina, Bulat, Karang Pilang, Karang Ketamba, Gosong Munggu, Kotok Besar, dan Kotok Kecil, pada posisi geografis 5°30'00"-5°38'00" LS dan 106°25'00"-106°40'00" BT, dan 5°38'00"-5°45'00" LS dan 106°25'00"-106°33'00" BT.

Zona Pemukiman Taman Nasional memiliki luas 17.121 Hektar adalah bagian kawasan taman nasional yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan perumahan penduduk masyarakat. Zona Pemukiman meliputi perairan sekitar Pulau Pemagaran, Panjang Kecil, Panjang, Rakit Tiang, Kelapa, Harapan, Kaliage Besar, Kaliage Kecil, Semut, Opak Kecil, Opak Besar, Karang Bongkok, Karang Congkak, Karang Pandan, Semak Daun, Layar, Sempit, Karya, Panggang, dan Pramuka, pada posisi geografis 5°38'00"-5°45'00" LS dan 106°33'00"- 106°40'00" BT.

Kondisi Sosial EKonomi Masyarakat

Penduduk yang bermukim di wilayah ini umumnya adalah pelaut yang berasal dari beberapa etnis di Sulawesi, yang paling dominan adalah etnis Bugis, sehingga budaya yang berkembang di masyarakat saat ini mencerminkan etnis-etnis tersebut. Mata pencaharian penduduk umumnya sebagai nelayan (70,99%) perikanan tangkap atau budidaya sebagai petani rumput laut musiman sedangkan sisanya bekerja di sektor jasa perdagangan dan sektor lainnya.

Jumlah penduduk yang bermukim di pulau-pulau pemukiman dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu sebanyak 11.052 jiwa yang tersebar di lima buah pulau, yaitu Pulau Pramuka, P. Panggang, P. Kelapa, P. Harapan dan P. Kelapa Dua.Tingkat pertumbuhan penduduk di wilayah ini rata-rata 1,21 % pertahun.

Beberapa pulau mempunyai tingkat kepadatan yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari kepadatan penduduk rata-rata DKI Jakarta, seperti Pulau Panggang 35.278 jiwa/km2, Pulau Kelapa 34.156 jiwa/km2, dan Pulau Harapan 10.000 jiwa/km2 yang secara geografis berada dalam kawasan taman nasional. Komposisi tingkat pendidikan masyarakat di kabupaten ini 39,21% tidak tamat SD, 43,01% tamat SD, 9,59% tamat SLTP, 7,19% tamat SLTA, 1,17% tamat Akademi/Diploma, dan 0,51% tamat sarjana. Porsi terbesar masyarakat kabupaten ini, yaitu 82,22% berpendidikan SD dan tidak tamat SD.

Kehidupan sehari-hari masyarakat tidak lepas dari keberadaan dan fungsi laut. Anak-anak biasa dengan kegiatan bersenda gurau dan berenang di pantai selain kegiatan mereka menuntut ilmu di bangku sekolah. Kegiatan rutin orang tua sebagian besar adalah melaut untuk mencari ikan. Tetapi kegiatan tersebut tidak mereka lakukan pada setiap hari Jum’at. Apabila tidak melaut, hari-hari mereka diisi dengan memperbaiki/ membuat jaring ataupun memperbaiki atau membuat kapal. Kehidupan seperti ini sudah rutin dan bisa dinikmati setiap saat.

Berdasarkan kriteria kegiatan budidaya perikanan berupa kondisi fisik geofisik (keterlindungan, kedalaman perairan, dan substrat dasar laut), oceanografis (kecepatan arus), dan kualitas air (kecerahan dan salinitas), kapasitas Kepulauan Seribu untuk pengembangan budidaya perikanan laut seluas 904,17 ha, diantaranya 622,49 ha (66 %) dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.

Berdasarkan kriteria kepariwisataan berupa keindahan alam, keaslian panorama alam, keunikan ekosistem, tidak adanya gangguan alam yang berbahaya, dan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, kapasitas Kepulauan Seribu untuk pengembangan pariwisata seluas 872,06 ha dengan kapasitas pengunjung 2.318 orang per hari, diantaranya 795,38 ha dan 1.699 Orang per hari (73 %) adalah kapasitas dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.

Dari sejumlah pulau yang berada di dalam kawasan Taman Nasinak Kepulauan Seribu yang berjumlah 78 pulau, diantaranya 20 pulau sebagai pulau wisata, 6 pulau sebagai hunian penduduk dan sisanya dikelola perorangan atau badan usaha. Pulau pulau yang dikelola untuk kebutuhan penelitian, edukasi maupun untuk pariwisata diantaranya:

Pulau Tidungmerupakan pulau terbesar yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Beragam aktivitas dapat dilakukan di sini seperti snorkeling, diving, sepeda santai, memancing, fotografi, maupun berkemah.

Pulau Bidadarimenyediakan beberapa cottage  yang dibangun di antara pepohonan yang menghadap ke laut. Lokasi pulau ini juga terbilang dekat dengan Jakarta namun kurang ideal untuk snorkeling. Pulau Bidadari memiliki luas daratan 6,03 hektar dengan panorama pantai yang asri dengan hamparan pasir putih. Ada pula sisa benteng peninggalan Belanda lengkap dengan meriam tua dan prasasti di area sekitarnya.

Pulau Pramukamemiliki panorama indah laut biru serta berdekatan dengan taman laut memungkinkan snorkeling dengan ideal di sini. Pulau ini juga merupakan wilayah ekowisata untuk penelitian dan pendidikan. Di sini terdapat lokasi penangkaran penyu sisik.

Pulau Kotokmenyajikan nuansa berlibur dengan konsep tradisional di lingkungan tropis. Ada pohon-pohon bakau besar, kicauan burung, dan biawak yang jinak, semua menunggu di sana. Di sini juga sempurna untuk mereka yang mencari lokasi bulan madu.

Pulau Pelangi merupakan pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan rindang dan lebat. Di sini ada beragam fasilitas penginapan dan perlengkapan untuk diving, snorkeling, memancing, lapangan tenis, toko, klinik kesehatan, dan berbagai fasilitas lainnya.

Pulau Sepaselain memiliki garis pantai yang indah juga menjadi favorit bagi para penyelam dan pemancing. Di sini tersedia fasilitas wisata Marine Walk dimana pengunjung dapat berjalan-jalan di dasar laut. Pulau Sepa juga merupakan pusat penangkaran Penyu Sisik (Eretnochelys imbricata) dimana bentuk mulutnya menyerupai paruh burung.

Pulau Putrimemiliki akuarium mini dan kolam menyatu dengan laut (Under Sea Aquarium). Fasilitas pulau ini dilengkapi juga dengan kolam renang, lapangan tenis, water bee, kano, dan banana boat.

Pulau Pantaradimana di sini air lautnya bening dengan pulau karang yang indah. Aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya scuba diving, diving, snorkeling, banana boat, dan banyak lagi atraksi lainnya. Di sini ada Pantara Island Resort yang menyediakan cottages, pool, bar, meeting room, discotheque, dan beragam fasilitas hiburan lainnya.

Pulau Ayermerupakan pulau yang mempunyai sumber air tawar. Di sini tersedia fasilitas dermaga pancing, kolam renang, arena bermain anak, karaoke room, ruang meeting, restoran, jetsky, banana boat, canoe, mini market  dan market art, fun bike, voli pantai, dan lapangan basket. pengunjung dapat berkeliling dengan berjalan kaki atau bersepeda sembari menikmati keindahan alam.

Cara pencapaian lokasi Taman Nasional Kepulauan Seribu dapat dimulai dari Muara Angke, setiap hari ada kapal kayu/ojeg yang melayani pengunjung untuk ke Kepulauan Seribu, dengan waktu tempuh +2,5 jam. Atau dari Dermaga Marina Ancol dengan menggunakan speedboat tetapi harus reservasi terlebih dahulu, lama perjalanan +1 jam.

Di Kepulauan Seribu terdapat beberapa Resort Wisata Bahari seperti Resort Wisata Pulau Kotok, Pulau Bira, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Matahari, dan Pulau Pantara. Sedangkan terkait dengan Wisata Pendidikan dan Konservasi Laut di Pulau Pramuka dan sekitarnya, terdapat beberapa akomodasi antara lain Mess/wisma tamu Taman Nasional Kepulauan Seribu, vila de lima, vila dermaga, dan homestay milik penduduk.