Kelahiran Anak, Upacara

Upacara berkait dengan daur hidup dalam masyarakat Betawi. Pada saat kelahiran anak tidak ada upacara khusus yang dilakukan, kecuali membuat selamatan berupa nasi kuning dengan lauk semur daging dan ayam. Ada suatu kebiasaan memberikan kelapa muda pada bayi yang baru lahir, dengan maksud membersihkan bagian dalamnya. Kelapa muda itu harus diambil dari pohon, harus dibawa turun bersama dan tidak boleh dilemparkan dari atas. Dilakukan untuk menghindari tidak tertangkapnya kelapa yang dilempar yang menurut kepercayaan bila bayi memakan kelapa yang terjatuh, ia akan menjadi tuli. Kebiasaan memberikan kelapa kadangkala diganti dengan sesendok madu dengan fungsi yang sama. 

Dukun bayi juga memberi perawatan kepada ibu yang baru melahirkan dengan melumuri bagian perutnya dengan ramuan tertentu, demikian juga pada tubuh si bayi. Untuk perawatan ini digunakan campuran abu dapur dan asem. Setelah diberi tapel, si Ibu dibalut dengan kain dan dikenakan sabuk yang dikenal sebagai bebekung, untuk menjaga perutnya cepat pulih. Seilangkan setelah ditapeli, kemudian dibalut dengan selendang (dibedong) dengan posisi tangan lurus keba, wah pada bagian kepalanya diberi pupuk yang terbuat dari ramuan bawang merah, daun kelor, dan daun cabe yang ditumbuk halus, dan kemudian dilekatkan pada bagian kepala yang masih lunak (ubun-ubun), agar terhindar dari angin maupun sawan (gangguan makhluk halus).

Merawat ari-ari (placenta) bayi dilakukan setelah dicuci bersih, dimasukkan dalam pendil diberi bumbu-bumbu seperti asem, garam, bawang merah, lengkuas, salam, sereh, kencur, dan kunyit; serta perlengkapan jahit-menjahit seperti jarum dan benang, dan secarik kertas bertuliskan nama saudara kandung si bayi, doa-doa dan petuah-petuah. Pendil ditutup dengan kain putih dan diikat pada bagian lehernya, lalu ditanam di dapur, agar kelak nama anak tersebut mendapat banyak kemudahan (tidak kekurangan makan) atau di samping pintu belakang rumah agar si anak kelak tidak sering keluar rumah dan pekerjaannya lebih banyak dilakukan di rumah. Setelah ari-ari ditanam, diatasnya diberi tanda berupa tumpukan batu atau patokan kayu/bambu dan diberi pelita yang diusahakan tetap menyala sampai puput puser (pusernya putus).

Pada usia tujuh hari si anak diberi nama dan dibuatkan nasi kuning. Kemudian menginjak usia 40 hari diadakan upacara cuci tangan, dengan maksud menyampaikan tanda terima kasih pada dukun bayi selama 40 hari membantu merawat bayi dan ibunya. Pada kesempatan ini juga diadakan gunting rambut yang pertama kali bagi si bayi dengan hidangan selamatan berupa nasi kuning. Sesaji yang diperlukan adalah nasi kuning, kopi pahit dan kopi manis, paso atau baskom berisi air dengan tujuh macam bunga harum, uang logam dengan jumlah tak terbatas, minyak wangi, bedak dan handuk atau kain untuk pengenng. Upacara diawali dengan membaca salawat, dukun bayi mencuci tangannya sendiri dengan air kembang untuk membersihkan diri dan mensucikan hati. Perbuatan tersebut diikuti ibu si bayi dan selanjutnya dukun mengambil uang logam dari air dan mengerik-ngerik tangan ibu bayi berkali-kali dan sebaliknya si ibu mengerik tangan dukun sampai tujuh kali bersamaan dengan berakhirnya pembacaan salawat sebanyak tujuh kali. Setelah itu tangan keduanya dikeringkan dengan handuk dan selanjutnya dukun dan si ibu saling membedaki tangan mereka. Menandakan upacara selesai, dukun bayi dapat pulang dengan memperoleh sesajen dan uang kokobak, dan selanjutnya seluruh perawatan bayi menjadi tanggung jawab si ibu sepenuhnya.

Upacara cuci tangan ini bisa juga didahului oleh upacara gunting rambut dan upacara sunat. Pada upacara sunat disediakan perlengkapan gunting, minyak kelapa dan lilin merah. Lilin merah dinyalakan selama penyunatan dilakukan, dimaksudkan sebagai penerang bagi hati dan pikiran si bayi agar kelak bisa menjadi seorang yang cerdas, berbudi serta tabah menghadapi tantangan hidup.