Kehidupan Sosial Budaya

Adat perkawinan tempo dulu kebanyakan berlangsung antar kerabat supaya hartanya tidak berpindah kepada orang luar. Saat melamar, si gadis juga ikut menyambut calon mertua dengan mencium tangannya. Upacara selanjutnya meliputi penyerahan uang, upacara nikah, mengarwahin, upacara sedekah, hingga waktu untuk dipacarin (bersanding). Dalam penyerahan uang, utusan si jejaka membawa sekitar 40 nampan buah-buahan dengan dimeriahkan suara mercon. Uangnya dibawa oleh orang tua sijejaka sendiri. Nampan-nampan tersebut akan dibalas oleh pihak perempuan dengan sajian berupa bekakak ayam, daging, nasi, ikan bandeng, dll.

Kesenian di Sunter antara lain Robana Ketimpring yang terdiri dari Robana Tiga Jari dan Robana Gedok. Selain itu juga masih ada Tanjidor, topeng, dll. Selain itu juga masih ada beberapa adat kebiasaan seperti nyambat dan sedekah bumi. Sunter juga memiliki tempat keramat seperti di makam Kompi Simun. Masyarakatnya pun mengenal berbagai bahasa pantangan sebagai hukum tidak tertulis yang harus dipatuhi dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tradisional Sunter berbentuk joglo yang juga menggunakan jendela bujang dan jendela garde. Pada tiang depan dipasang kapstok untuk mencantelkan baju dan di malam hari untuk meletakkan pelita.