Kehamilan, Upacara

Upacara yang mencerminkan perpaduan budaya berbagai macam suku bangsa di Indonesia dalam suku bangsa Betawi, antara lain Jawa dan Sunda, berpadu kebudayaan Islam. Ada dua istilah yang dikenal untuk upacara bulan ketujuh masa kehamilan pada suku Betawi, yaitu upacara nujuh bulan dan kekeba. Seperti halnya suku bangsa lain, upacara ini hanya dilakukan pada kehamilan pertama, dan calon orang tua si bayi diharuskan melakukan beberapa pantangan.

Menurut kepercayaan orang Betawi, usia kandungan tujuh bulan adalah usia tua bagi calon bayi. Pada usia kedelapan bulan, calon bayi menjadi lebih muda lagi. Biasanya bayi yang lahir pada usia kandungan delapan bulan sangat tipis harapannya untuk hidup dibanding dengan yang baru berusia tujuh bulan. Maka selamatan kehamilan ketujuh bulan perlu diadakan, agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat. Benda-benda yang digunakan dalam upacara ini adalah kitab suci Al-Quran, bantal atau lekar untuk tempat kitab suci, tikar sebagai alas duduk para tamu yang diundang. Syarat yang harus ada adalah rujak tujuh rupa, yaitu rujak dari tujuh jenis buah, termasuk delima. Buah delima menurut kepercayaan mereka bisa membuat bayi yang akan dilahirkan kelak menjadi anak yang menarik dan disayangi semua orang, karena warna bagian dalam buah ini sangat menarik. Selain itu, juga harus disiapkan segelas air putih dengan taburan bunga dan nasi kuning sebagai simbol kebutuhan hidup manusia, dengan taburan bunga sebagai simbol keharuman nama keluarga.

Upacara nujuh bulan terdiri dari tiga tahapan, yaitu pembacaan Al-Quran yang dipimpin seorang kiai atau guru mengaji sebagai awal acara. Tahap kedua, upacara mandi dilakukan pagi atau sore hari. Diikuti acara ngirag yang dimaksudkan memperbaiki letak bayi dalam kandungan. Acara terakhir disebut denger kata, dimaksudkan agar calon anak kelak menjadi anak yang patuh pada orang tua dan selalu mendengar kata-kata orang tua.