Kebantenan

Desa di sebelah selatan Bekasi, sebelah timur Kali Sunter yang diberikan kepada Pangeran Purbaya (1732) sebelum ia "diselonkan" atau dibuang ke Ceylon (Sri Lanka). Suatu desa tempat ditemukannya piring tembaga oleh Raden Saleh yang memberikan sedikit informasi mengenai susunan Kerajaan Pajajaran. Dikenal dengan sebutan Kebantenan karena kawasan itu sejak tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang-orang Banten, di bawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang keberadaan orang-orang Banten di kawasan tersebut, diawali setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar) mendapat bantuan Kompeni, yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, hingga terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi-abdinya yang masih setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, sedang Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati).

Di Batavia, awalnya mereka ditempatkan di dalam lingkungan benteng. Kemudian, Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi-abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kabantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, Ciluwer, dan Cikalong. Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan adiknya, Pangeran Sake, tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732.

Disamping Kabantenan di Jakarta Utara, ada pula Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda Kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang bernilai bagi Sejarah Jawa Barat.