Kasteet Van Batavia

Kasteel van Batavia didirikan tanggal 12 Maret 1619 di tepi Sungai Ciliwung, sebagai pusat pemerintahan Batavia. Juga berfungsi sebagai gudang, kantor dagang, dan kantor perbendaharaan. Tempat kediaman dan kantor pejabat tertinggi pemerintah VOC. Kastel ini berbentuk benteng, dimana bangunan-bangunan yang berada di dalamnya dikelilingi benteng. Tempat ini merupakan simbol dari masa-masa awal penancapan tonggak kekuasaan Belanda yang pertama di Indonesia (Jawa). Merupakan tempat "serba guna", saat raja-raja Jawa menerima penghormatan sekaligus juga pelecehan.

Sejarahnya dimulai saat Jayakarta jatuh ke tangan Kompeni pada tanggal 30 Mei 1619, dan berganti nama menjadi Batavia. VOC mulai membangun pemukiman baru di atas reruntuhan kota yang ditinggalkan oleh penghuninya. Sebelum membangun kota, JP Coen membangun benteng yang dikenal dengan nama Kasteel van Batavia menggantikan Fort Jacatra yang saat itu tidak mampu lagi menampung kegiatan dagang VOC. Luas Kasteel van Batavia sekitar 9 kali Fort Jacatra, berbentuk segiempat dengan panjang dari pintu daratan (landpoort) ke pintu air (waterpoort) 290 treden, sedangkan lebarnya dari dinding barat ke dinding timur 274 treden.

Benteng ini memiliki empat bastion sudut atau kubu yang diberi nama Parrel (barat laut), Saphier (timur laut), Robijn (tenggara) dan Diamant (barat daya). Keempat bastion itu dihubungkan oleh dinding yang tinggi terbuat dari batu karang atau koral yang disebut courtine atau gordijn. Pada keempat kubu tersebut ditempatkan meriam serta tentara untuk menjaga kediaman para pejabat tinggi Kumpeni serta barangbarang berharga yang tersimpan di balik tembok kuatnya.

Pada peta lama menggambarkan situasi tahun 1619, tampak bahwa dinding barat Kasteel van Batavia berhimpitan dengan dinding benteng lama (Fort Jacatra), sedangkan bastion Saphier dan Robijn masih menjorok ke luar. Terdapat dua buah pintu masuk yaitu gerbang daratan (landpoort) di sisi selatan dan gerbang air (waterpoort) di sisi utara menghadap ke laut. Selain itu di dalam kasteel, tegak lurus dengan gerbang daratan (landpoort) terdapat sebuah gerbang yang disebut gerbang pinang (pinangpoort). Di dalam kasteel terdapat sejumlah bangunan antara lain gubernemen, gedung pengadilan, loji, gereja kasteel, kamar senjata, kamar pakaian, gudang manufaktur dan toko obat.

Di luar kasteel terdapat dua buah gerbang yaitu gerbang kolam (Vijverpoort) di ujung bastion Parel dan gerbang Delft (Delftschepoort) di ujung bastion Rabijn. Sedangkan di sebelah barat kasteel, antara bastion Parrel dan Diamant terdapat rumah peristirahatan (Speelhuisje) gubernur jenderal. Kasteel dikelilingi oleh parit atau grachten yang juga berfungsi sebagai sarana pertahanan. Pada peta F. Otten yang menggambarkan situasi tahun 1629 terlihat bahwa Kasteel van Batavia dipersenjatai dengan sejumlah meriam berat ditempatkan di atas bastion maupun di luar kasteel yang diarahkan ke seluruh penjuru. Sedangkan di sebelah utara dan barat Kasteel terdapat pagar kayu yang rapat yang juga berfungsi sebagai sarana pertahanan.

Di tahun 1760, penduduk Kasteel Batavia mencapai 16.000 jiwa, tahun 1778 tinggal 2.000, dan tahun 1790 tersisa 8.000 jiwa. Merosotnya jumlah penduduk disebabkan karena muncul wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang mati. Selama kurang lebih 30 tahun sejak tahun 1760, daerah sekitar Kasteel Batavia benar-benar menjadi kota maut yang makin lama makin banyak ditinggalkan penghuninya sehingga banyak rumah kosong yang berhantu.

Pada awal abad ke-19, Kasteel van Batavia tidak lagi menjadi pusat perhatian, pandangan orang Eropa tentang Batavia lebih terpusat pada Weltevreden, yang merupakan tempat kedudukan administrasi baru dan tempat kediaman orang Eropa. Kasteel van Batavia dihancurkan Gubernur Jenderal Daendels dan sebagian batu-batunya digunakan untuk membangun Weltevreden. Berpindahnya penduduk dari Kasteel van Batavia membuat perkembangan di luar kota makin semarak dengan berdirinya gedung-gedung megah ala Belanda, seperti di sepanjang Jacatraweg (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta) dan di Molenvliet (sekarang Jl. Gajah Mada dan Hayam Wuruk).