KARTONO YUDOKUSUMO

Pelukis generasi Persagi, lahir 1926 di Medan, dan meninggal di Bandung, 11 Juli 1957 akibat kecelakaan lalu lintas. Ia adalah putera seorang guru seni rupa dari Jawa Tengah, yang pada saat kelahiran puteranya, secara temporer dipekerjakan di Sumatera. Selagi bayi pindah ke Jakarta dan tinggal sampai PD II. Ayahnya di samping guru seni rupa, juga memimpin sebuah rombongan pertunjukan kethoprak dan bertugas menulis lakon-lakon serta melukis layar-layar, hingga si anak laki-laki ini tumbuh dalam suasana teaterikal. Pada akhir tahun 1950-an ayahnya masih mengajar serta menulis prosa dan puisi; ibunya memberi pelajaran bahasa Inggris. Ia menamatkan SMA di Jakarta dan salah seorang gurunya adalah Syafei Sumardja. Sahabatnya termasuk saudara angkatnya yaitu Sudjojono dan Affandi yang mondok dengan keluarga Kartono selama sekitar lima tahun.

Ia belajar di bawah sejumlah seniman, di antara mereka C. Yazaki, WFM. Bossardt, B.J.A. Rutgers (1934), T. Akatsuka (1934-1938), E. Dezentjes (1936-1938), dan Ch. Sayers (1942-1945). Ia dipengaruhi oleh seniman Swedia Maria Ehnborg, yang tinggal pada suatu ketika di Bandung, dan juga oleh karya-karya Rousseau. Tahun 1943, ia mendapat penghargaan dari pameran tunggal yang disponsori Putera dan beberapa penghargaan lain selama pendudukan Jepang, Karya-karyanya memiliki ciri yang sedemikian jauh dari sekedar potret keluarga yang masing-masing dilengkapi garis-garis kontur yang tetap dan tebal, dalam sapuan-sapuan yang dihaluskan. Warnanya pun turut mengendap dan dengan pemilihan mewarnai yang dipoleskan halus-halus olehnya pada potret-potret yang realistis dari keluarganya. Kartono akhirnya menjadi perintis, bukan dalam penggunaan warna-warna terang, tapi dalam gaya dekoratif, di mana warna terang dan gelap bekerja mendambakan kisah hidup pribadinya, di tengah-tengah dalam yang indah sekelilingnya.

Pada 1945 Kartono pindah ke Yogyakarta, tempat ia menikahi Numaningsih, seorang bintang film cantik dan berbakat yang juga melukis. Mereka mempunyai seorang anak perempuan sebelum bercerai tahun 1952. Ia bergabung dengan SIM pada 1946, dan dengan anggota-anggota lain dari SIM pergi ke Solo, dan selama tinggal 1947-1948 ia dipengaruhi oleh orisinalitas dan kejelasan dari lukisan Sudibio. Asosiasi pindah kembali ke Yogyakarta pada 1948 di masa aksi militer Belanda. Selama di Yogyakarta untuk bisa hidup, ia terpaksa berdagang kayu dan arang keliling yang hanya menyisakan sedikit waktu untuk melukis. Kemudian ia pindah ke Madiun sementara waktu, dan di tempat ini ia menjadi pemimpin pertama dari Tunas Muda, sebuah asosiasi yang di dalamnya Sudibio juga berpartisipasi.

Setelah 1951, tinggal dan bekerja di Bandung, mengajar melukis dan mengepalai Sanggar Seniman, sebuah studio yang ia dirikan pada 1952 dengan bantuan dari Jawatan Kebudayaan, Kementrian Pendidikan. Sanggar seniman diambil alih But Muchtar serta anggota-anggota lain dari Sekolah Bandung dan kemudian menyelenggarakan sebagai sebuah sekolah bebas untuk menghormati Kartono. Pada tahun 1955 ia menikah kembali serta mengadopsi seorang anak. Lukisannya banyak dikoleksi Soekarno dan sempat berada dalam pertimbangan Ford Foundation untuk sebuah beasiswa ke AS, sebelum datang waktu kematiannya yang mendadak, ketika ia mengendarai sepeda motornya. Pada 1960 sebuah pameran peringatan karya-karya Kartono diselenggarakan di Jakarta.