KARTADRIYA, RADEN

Disebut juga Raden Kertadira, berasal dari Jawa Tengah, keturunan Sunan Kalijaga Adilangu. Masuk Jakarta tahun 1718, melalui Cirebon dan Bandung dan sejak tahun 1690 banyak membantu perjuangan rakyat. Ia bekerjasama dengan Pieter Erberveld, seorang kulit putih yang memberikan biaya untuk keperluan para pejuang yang memerlukan senjata-senjata. Kartadriya juga mengadakan hubungan dengan orang-orang dalam benteng, dimana serdadu-serdadu VOC banyak terdiri dari orang-orang pribumi. Dengan tekun dia mengumpulkan senjata-senjata tajam, mulai dari tombak, keris hingga senjata api. Perlawanan yang akan dilakukan Kartadria sempat diketahui Belanda melalui mata-matanya, sehingga perlawanan besar-besaran di dalam dan luar benteng gagal.

Tanggal 23 Januari 1722 bersama Pieter Erberveld ia dijebloskan dalam tahanan VOC dan disiksa agar mengakui rencana perlawanannya. Hal itu membuat para pengikutnya mundur ke pedalaman dan dikejar Belanda dengan mengerahkan pasukan sewaannya. Bulan April 1722, ia mendapat siksaan yang sangat mengerikan, digantung pada tiang salib dan dipereteli dengan tang yang panas. Setelah mati, mayatnya diikat dan ditarik oleh dua ekor kuda. Tempat itu kemudian dinamakan Kampung Pecah Kulit. Makamnya sekarang berada di daerah Kebon Jukut, Manggadua, Jakarta Barat.