KAPTEN CINA

Kapitein der Chinesen yang diangkat pemerintah Belanda untuk bertanggung jawab terhadap masyarakat Cina. Salah satu di antara mereka bernama Siqua, Maetsuijker, atau Wanyok. Pengangkatan para kapten dilakukan dengan upacara kemiliteran dan pesta besar-besaran. Tahun 1685 merupakan puncak sejarah dari berbagai upacara ini. Kapten Cina pun sudah mempunyai polisi dan penjara sendiri (1754). Pakaian dinas perwira Cina berwarna merah tua. Mereka menangani administrasi bagi penduduk Cina yang akan keluar, menetap, atau akan menikah.

Jabatan sebagai perwira Cina merupakan posisi prestisius sehingga mereka berani memberi imbalan besar untuk mendapat posisi ini. Cara menyuapnya pun beragam dari menjamu para pegawai Kompeni dengan minum-minuman keras di rumahnya hingga memberikan recognitiegeld (uang yang dibayar setiap tahun sebagai pengakuan atas hak). Pernah ada orang Cina yang berjanji akan memberikan tanah di luar kota kepada anggota pemerintahan Cranssen (1812). Memang pangkat perwira bisa memberi kehormatan dan kekayaan. Dari pemasukan judi dan candu sebesar 45 ribu Rijksdealders (Rds)/tahun, perwira Cina mendapat 15 ribu Rds/tahun. Untuk para kapten Cina ini, van Imhoff pernah menjual rumah di Kampung Tiang Bendera untuk dijadikan sebagai kediaman resmi (1743). Kampung Tiang Bendera pun kemudian dikenal sebagai lingkungan tempat tinggal para Kapitein Cina.

Disamping itu terdapat penyebutan Kapitan Peranakan, merupakan sebutan untuk orang Cina yang ditunjuk Belanda untuk mengatur orang Cina yang jumlahnya terus bertambah. Kapitan peranakan ini hadir hingga awal abad ke-19. DiBatavia, kapten terakhir bernama Muhammad Japar, yang meninggal pada tahun 1827.