Kapiten Jass

Keberadaannya lebih sebagai sebuah nama legenda, yang secara fisik makamnya berbentuk nisan besar yang ditumbuhi oleh sebuah pohon rindang yang terdapat di Gereja Portugis di Jl. Pangeran Jayakarta. Sampai saat ini oleh masyarakat sering dikunjungi untuk berdoa dan berziarah, dengan harapan kapiten jass akan mengabulkan permintaan mereka. Sebenarnya menurut catatan sejarah, Kapiten Jass tidak pernah ada, hal ini dapat diketahui dari asal mula nama tersebut, bahwa Jassenkerk adalah nama populer untuk Gereja Portugis di luar kota lama. Jassen adalah istilah yang diberikan pada balok kayu yang didatangkan dari Ciasem, Jawa Barat, dan tempat tinggal tukang kayu di daerah ini biasanya disebut Jassenehe Balken. Balok-balok tersebut dibawa melalui laut masuk terusan Ancol dan disimpan di dekat jembatan yang disebut "Jassen Brug".

Pada abad ke-17 kehidupan di Batavia masih amat buruk, para pendatang baru yang kondisinya masih lemah akibat perjalanan laut yang panjang dan melelahkan, cepat sekali meninggal dengan sengsara di rumah sakit kota (rumah sakit ini tepat dimana Bank Indonesia berdiri sekarang). Mereka lalu dikuburkan secara bertumpuk di halaman Gereja, di antara gardu pos dan gedung Gereja. Karena banyaknya orang yang dikuburkan di sebelah halaman "Gereja Jassen" secara euphimistis disebut tanah Kapiten Jass. Dan menjadi sebuah analogi disebut pergi ke tanah Kapiten Jass sebagai persamaan bagi orang miskin yang sedang mendekati ajal. Pada tahun 1828, tanah pekuburan ini ditutup dan dibuatkan yang baru di Tanah Abang. Pekuburan "Kapiten Jass" dipindahkan di bawah pohon besar dan hingga saat ini tidak disentuh dan dirobah.